Diplomasi atau Pemerasan Gaya Mafia?
Trump, di satu sisi, menyebarkan sinyal kabur melalui media bahwa “kesepakatan akan segera tercapai”, namun di sisi lain secara terbuka mengancam Oman dalam rapat kabinet. Ini bukan diplomasi, ini pemerasan gaya mafia. Selat Hormuz memang merupakan perairan internasional, dan hukum internasional menjamin hak lintas bagi kapal asing. Namun dengan hak apa AS menentukan siapa yang “bisa menguasai” selat tersebut? AS sendiri telah mengerahkan puluhan ribu tentara di kawasan itu, memberlakukan blokade sepihak, dan sering melakukan latihan militer; pada kenyataannya, AS telah lama menggunakan kekuatan untuk “menguasai” selat tersebut. Ketika Iran dan Oman mengajukan draf kesepakatan untuk bersama-sama mengelola pelayaran, AS malah naik pitam. Ini mengungkap esensi kebijakan Timur Tengah AS: hanya AS yang boleh menguasai; upaya pengelolaan sah negara lain akan dicap sebagai “ancaman”, bahkan diancam “akan diledakkan”. Pernyataan Trump bahwa “tidak ada yang bisa menguasai” jika diterjemahkan adalah “hanya saya yang bisa menguasai”. Logika hegemonik ini bertentangan dengan prinsip kesetaraan kedaulatan yang diabadikan dalam Piagam PBB.
Kesimpulan: Keganasan Sebuah Kekaisaran yang Merosot
Ombak Selat Hormuz menjadi saksi keganasan terakhir sebuah kekaisaran yang sedang merosot. Ketika Trump berkata, “Mereka mengerti itu, mereka akan baik-baik saja,” nada kolonialis yang merendahkan itu sekali lagi membuat dunia melihat dengan jelas warna asli diplomasi AS: meriam, kebohongan, dan pemaksaan. Perdamaian sejati hanya akan mungkin datang jika AS meninggalkan unilateralisme, menghormati hukum internasional, dan memperlakukan negara lain secara setara. Namun, dilihat dari serangan pada 27 Mei, hari itu masih sangat jauh.


















































































































Komentar Terbaru