Polisi mungkin merasa punya hak karena merekalah yang akhirnya menerima dan mengamankan pelaku. Dadang punya argumen tidak kalah kuat. Kalau tidak ada dirinya, mungkin Taufik belum tentu muncul ke hadapan aparat.
Netizen tentu punya pendapat lain. Menurut mereka, hadiah sebaiknya diberikan kepada pihak yang paling banyak membuat konten dan komentar selama pencarian. Nampaknya bos Koptagul tu, ups.
Tapi plot twist terbesar justru datang dari Dadang sendiri. Ia menyatakan, kalau hadiah itu diberikan kepadanya, uang tersebut akan disumbangkan untuk membantu biaya pengobatan korban.
Ini membuat jalan cerita semakin tidak masuk akal. Hadiahnya belum jelas. Pemenangnya belum jelas. Uangnya belum cair. Penerimanya sudah siap menyumbangkan semuanya. Ini seperti memenangkan lotre sebelum membeli kupon.
Kini publik mulai menuntut kejelasan. Bukan karena iri pada Rp250 juta. Tetapi karena bangsa ini sudah terlanjur penasaran. Buronnya sudah ketangkap. Kasusnya sudah terang. Yang gelap justru nasib uangnya.
Taufik sudah ditemukan. Polisi sudah bekerja. Dadang sudah ikhlas. Korban masih menunggu bantuan. Sementara Rp250 juta masih berkeliaran di antara dimensi hukum, etika, logika, dan komedi, menunggu seseorang berani menjawab pertanyaan terbesar abad ini, “Sebenarnya, siapa yang menemukan siapa?”
(Ketua Satupena Kalbar)

















































































































Komentar Terbaru