BANDA ACEH -Pemerintah terus berupaya memberikan pelayanan sistem kelistrikan secara maksimal di tengah masyarakat. Belajar dari pengalaman seperti pemadaman listrik bergilir di Pulau Jawa baru-baru ini, negara melalui PT PLN (Persero) terus berupaya memperkuat sistem kelistrikan yang andal.
Salah satu langkah strategis yang kini dilakukan adalah membangun Gardu Induk (GI) Nalumsari/Kudus II 150 kV di Desa Tunggul Pandean, Kecamatan Nalumsari, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah.
Berproses sejak 2017, proyek ini terus menunjukkan progress positif. Dukungan hampir seluruh masyarakat sekitar, membuat proyek yang nantinya akan memperkuat sistem kelistrikan di Kudus dan Jepara ini, terlaksana nyaris tanpa gangguan berarti.
Hanya saja, masyarakat kini merasa terusik dengan manuver oknum anggota DPR RI yang terindikasi kerap memprovokasi beberapa orang masyarakat, untuk ikut menggagalkan atau menolak proyek strategis yang menjadi salah satu program Asta Cita Presiden Prabowo.
Sarno, tokoh masyarakat setempat mengungkapkan, sejak pemerintah mencanangkan pembangunan GI di desa mereka, masyarakat sangat berharap semuanya bisa berjalan lancar.
“Masyarakat disini sangat antusias mendukung GI ini. Apalagi kami petani di sini semua sangat butuh listrik, khususnya untuk membantu pengairan sawah terlebih di musim kering begini,” ujar Sarno dikutip Kamis 30 Juli 2026.
Kendati demikian, dia mengakui bahwa kenyamanan proses pembangunan sempat terusik dengan hadirnya oknum-oknum tertentu yang berupaya menghambat karena faktor keuntungan pribadi yang diharapkan, tapi tidak tercapai.
“Tapi itu cuma segelintir penduduk di sini, selebihnya orang luar desa yang tidak tahu apa-apa. Makanya saya tekankan kalau ada warga sini yang menghambat proyek, matikan saja listrik di rumahnya Pak PLN,” tegasnya.
Senada juga dilontarkan Ketua RT 4, Sapon. Dikatakannya, mereka sudah bosan dengan pemadaman listrik bergilir yang terjadi selama ini, karena Jepara khususnya Desa Tunggul Pandean, belum mendapat pelayanan kelistrikan maksimal.
“Listrik ini kan kebutuhan primer yang sangat kita butuhkan setiap saat. Wajar jika kami sangat senang bila ada pembangunan gardu induk PLN di wilayah kami. Karena pastinya ini akan sangat mendukung aktivitas warga,” sebutnya.
Kepala Desa Tunggul Pandean Khotibul Umam secara rinci juga menjelaskan, tahapan pembangunan GI itu sangat prosedural termasuk adanya ruislag atau tukar guling aset.
“Dulu yg menjadi bakal untuk pendirian gardu induk itu salah satunya tanahnya Bapak Suliyono dan Pak Rio. Berhubung mereka tidak mau menerima hasil dari appraisal maka dipindahkan ke tanah bondo deso yang itu kebetulan tanah bengkok (TKD) petinggi,” katanya.

















































































































