Ao Qingyan, ahli agronomi senior dari Chengdu Academy of Agriculture and Forestry Sciences, mengatakan kepada media berbasis di Sichuan, Fengmian News, bahwa ketika labu ditempelkan pada kulit sepanjang malam, panas tubuh akan berpadu dengan panas yang terperangkap di ruang sempit di bawah selimut.
Kondisi tersebut pada dasarnya mengubah labu kundur menjadi semacam inkubator bersuhu hangat.
Dalam kondisi hangat dan lembap, mikroorganisme dapat berkembang biak dengan cepat dan menguraikan gula serta zat organik di dalam labu.
Proses tersebut menghasilkan karbon dioksida dan gas lainnya.
Karena kulit labu yang kedap udara memerangkap gas tersebut, tekanan di dalamnya pun terus meningkat.
Kondisi inilah yang dapat menyebabkan labu akhirnya pecah.
Meski demikian, seperti yang dikatakan para warganet, membeli labu berukuran besar untuk mencoba trik ini memang cukup murah.
Setelah mencoba efek dinginnya, labu tersebut bisa dimasak menjadi sup atau berbagai hidangan.
Selain menyegarkan untuk disantap saat musim panas, cara ini juga dapat mencegah labu terbuang sia-sia.



















































































































Komentar Terbaru