Tetapi secara resmi? Nihil. Tak ada nama, rekening, transfer. Tak ada satu pun jari telunjuk berani mengarah kepada napi yang menikmati fasilitas tersebut.
Inilah dagelan paling pahit. Lapas biasa overkapasitas sampai 200 persen. Pungli Rp150 ribu per minggu disebut terjadi di blok reguler. Tetapi di belakang tembok muncul klaster eksklusif dengan Alphard dan Fortuner di garasi. CCTV area vital tidak ada. Izin tanah baru terbit 2026 untuk bangunan sudah berdiri sejak 2023.
Sekarang bangunannya sudah dihancurkan. Sipir dinonaktifkan. Pemeriksaan berjalan. Ancaman sanksi PP 94/2021 dan proses pidana masih menggantung.
Lalu napi yang punya uang? Masih menjadi bagian paling kabur dari cerita. Padahal publik ingin sederhana. Kalau fasilitas mewah itu lahir karena uang napi, kejar uangnya, telusuri alirannya, bongkar jaringannya, dan pindahkan para penikmat fasilitas eksklusif itu ke lapas yang paling keras pengawasannya.
Jangan sampai negara hanya berani menghancurkan rumahnya, tetapi takut mengusik penghuninya. Ekskavator ternyata punya keberanian tidak selalu dimiliki manusia. Ia tinggal maju. Gas. Hantam. Rata.
Sementara manusia sibuk rapat, klarifikasi, pemeriksaan, dan berkata, “sedang didalami.”
Sepuluh bangunan akhirnya menjadi puing. Tetapi pertanyaan terbesar masih berdiri tegak. Siapa yang membayar Lapas rasa hotel itu? Kalau jawabannya masih misterius, yang dirobohkan hari ini mungkin cuma beton.
(Mantan wartawan)































































































Beri Komentar