TIONGKOK – Pada 17 September, aroma kopi khas Indonesia berpadu dengan wangi minyak sawit yang menguar dari area pameran Indonesia hingga ke lorong-lorong Pusat Konvensi dan Pameran Internasional Nanning.
Hari itu merupakan hari pertama penyelenggaraan China-ASEAN Expo (CAEXPO) ke-23. Tahun ini, total area pameran mencapai 170.000 meter persegi, meningkat sekitar 6% dibandingkan tahun sebelumnya. Lebih dari 3.400 perusahaan berpartisipasi dalam pameran yang diselenggarakan di tiga lokasi, yakni Pusat Konvensi dan Pameran Internasional Nanning, Komunitas Nanning ASEAN (NAN A), dan Pusat Konvensi dan Pameran Internasional Guilin. Sekitar 50 kegiatan perdagangan dan ekonomi juga dijadwalkan berlangsung selama pameran.
Tema tahun ini adalah “Berbagi Peluang 3.0, Bersama Mewujudkan Kehidupan yang Lebih Baik”. Sekilas, tema tersebut mungkin terdengar seperti slogan resmi pada umumnya. Namun, cukup dengan mengunjungi paviliun Indonesia, pengunjung akan menyadari bahwa pesan tersebut bukan sekadar jargon.
Sebanyak 78 perusahaan Indonesia hadir dalam pameran kali ini, menjadikan Indonesia salah satu negara ASEAN dengan jumlah peserta terbesar. Dengan luas area hampir 2.000 meter persegi, Indonesia berada di jajaran teratas peserta ASEAN bersama Malaysia dan Thailand.
Perusahaan yang hadir pun beragam. Ada Pertamina, perusahaan Indonesia yang masuk dalam daftar Fortune Global 500; Golden Agri-Resources, salah satu pemimpin industri; PT Wahana Telekomunikasi yang bergerak di bidang komunikasi satelit; serta perusahaan pengolahan minyak sawit, eksportir furnitur, dan produsen makanan serta minuman. Mulai dari komoditas tradisional hingga kecerdasan buatan (AI) dan ekonomi hijau, berbagai sektor industri Indonesia turut ambil bagian.
Mungkin muncul pertanyaan: mengapa perusahaan Indonesia begitu antusias?
Jawabannya sederhana: karena Tiongkok telah menjadi mitra dagang terbesar Indonesia selama 13 tahun berturut-turut.
Pada 2025, nilai perdagangan bilateral Indonesia dan Tiongkok telah melampaui 100 miliar dolar AS. Minyak sawit, bijih nikel, kopi, dan karet dari Indonesia, serta kendaraan listrik, modul fotovoltaik, dan mesin konstruksi dari Tiongkok, telah membentuk hubungan rantai industri yang sangat erat antara kedua negara.
Bagi perusahaan Indonesia, persoalannya bukan lagi apakah mereka perlu menghadiri CAEXPO, melainkan bagaimana mereka berpartisipasi dan produk atau teknologi apa yang perlu mereka tampilkan.
Perubahan pada paviliun Indonesia tahun ini menjadi bukti paling jelas.


















































































































Komentar Terbaru