UPDATE

Salam.life
NASIONAL
NASIONAL

Anies Baswedan Versus Konglomerat Hitam

OLEH: TONY ROSYID*

GARA-GARANYA Anies menang di Pilgub DKI. Inilah akar masalah kenapa Anies dituduh intoleran. Seandainya yang menang itu Agus Harimurti Yudhoyono atau AHY, maka AHY yang akan dituduh intoleran.

Intinya, siapa pun lawan Ahok yang menang di Pilgub DKI 2017 akan dituduh intoleran dan telah menggunakan politik identitas. Sekali lagi, siapa pun!

Kebetulan saja Anies yang menang, maka Anieslah yang jadi sasaran tuduhan intoleran dan menggunakan politik identitas itu.

Ahok adalah Gubernur DKI yang kontroversial. Banyak warga Jakarta yang tidak suka Ahok. Banyak faktor dan alasannya. Ahok dianggap temparemen. Emosinya tidak terkontrol dan bahkan sering keluar kata kotor dan caci maki. Masyarakat Indonesia secara umum, enggak suka pemimpin yang arogan. Dan Ahok dianggap arogan.

Ada yang gak pilih Ahok karena alasan agama. Terutama ketika kasus Al-Maidah terjadi di bulan Sepetember 2016. Kasus ini dianggap melukai umat Islam yang notabene menjadi pemilih mayoritas di DKI.

Saat itu, muncul tiga calon yaitu Ahok, Anies, dan AHY. Singkat cerita, Anies lah yang menang. Seandainya Ahok yang menang, kita bisa bayangkan kegaduhan yang akan terjadi pasca Pilgub DKI. Boleh jadi akan semakin masif.

Demonstrasi massa yang begitu besar dari berbagai wilayah Indonesia tidak akan berhenti. Seandainya pun AHY yang menang, putra SBY ini pun akan mengalami hal yang sama. Akan dituduh intoleran. Islam kanan dan semi radikal.

Kalau kita bedah pemilihnya, ini berdasarkan hasil survei, non muslim hampir semua pilih Ahok. Pemilih muslim terbelah ke tiga paslon. Sebagian ke Ahok, sebagian ke Anies dan sebagian lainnya ke AHY. Dimana nalar politik identitasnya?

Bicara politik di masjid mendapat kritik keras. Gak jarang sering dihentikan dan penceramahnya ditegur. Sementara di sejumlah tempat ibadah lain, banyak orang bicara tentang politik praktis. Tentu tidak fair dan jauh dari nalar sehat jika masjid yang dituduh sebagai sarana membangun politik identitas. Ini yang mesti diluruskan.

Clear, bahwa polarisasi politik di DKI terjadi karena kasus Al-Maidah. Bukan diciptakan oleh paslon. Ini yang harus dicatat. Maka, siapapun yang ikut nyalon di pilgub DKI saat itu, enggak bisa keluar dari polarisasi ini.

Polarisasi politik marak kembali di Pilpres 2019. Pertarungan Jokowi vs Prabowo membuat polarisasi politik lahir dan tumbuh kembali. Setelah Pilpres, polarisasi pun gak berhenti. Kerena Prabowo bergabung ke kabinet koalisi, maka polarisasi diarahkan ke Anies. Lagi-lagi, Anies menjadi sasaran untuk kedua kalinya.

image_print
1 2 3
Story Terbaru
MEMUAT STORY...

Bagaimana reaksi Kamu?

Beri Komentar

Terkait

Tampilkan Lainnya Loading...Tidak ada lagi data informasi lainnya.