Sementara itu, Abdul Malik Gismar mengungkapkan fenomena global distrust yaitu runtuhnya kepercayaan publik secara umum di dunia terhadap berbagai hal seperti terhadap pemimpin pemerintahan, korporasi, dan bahkan jurnalis. Setidaknya itu yang diperoleh dari riset Edelman Trust Barometer tahun 2022 yang melibatkan 36 ribu lebih responnden di 28 negara. Bahkan riset terssebut juga mengungkap sejumlah masing-masing 67% dan 66% responden merasa mereka telah dibohongi oleh media dan pemimpin pemerintahan di negara mereka masing-masing.
“Kita hidup di masa kebenaran yang serba relatif (uncertain truth) dan senantiasa hadirnya informasi alternatif (alternative facts). Pada masa ini tidak ada common ground yang disepakati bersama. Sehingga, emosi default dari khalayak adalah distrust,” dinyatakan Abdul Malik.
Fenomena distrust ini pada gilirannya mengantarkan pada merebaknya penggunaan “politics of fear” yang mengeksploitasi kecemasan khalayak. Politics of fear ini dimanifestasikan dalam retorika-retorika yang mengedepankan konstruksi in-group “kita” (seperti misalnya narasi kepentingan penduduk asli) versus out-group “mereka” (sepert misalnya ancaman dari kaum pendatang) yang menumbuhsuburkan polarisasi politik. Sebagaimana hal ini terjadi pada pemilu presiden 2016 di Amerika Serikat.






















































































Beri Komentar