“Itu artinya data kependudukan kita jadi terbuka dan menjadi masalah-masalah. Itu bagi saya sesuatu yang tidak sederhana,” keluhnya mengungkit.
Belum lagi, Koentjoro mendapati masyarakat dibodohi dalam memilih capres-cawapres, dengan cara diberikan bantuan sosial (bansos) dari pemerintah.
“Sekali lagi gerakan-gerakan kebodohan-kebodohan dan pembodohan-pembodohan ini bertentangan dengan UUD 1945, yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa. Menurut saya ini tidak bisa ditoleransi. Memanfaatkan kekuasaan itu sangat-sangat jelas,” ucapnya.
Maka dari itu, Koentjoro meyakini jargon Indonesia Emas 2045 yang juga digaungkan oleh pasangan Prabowo-Gibran sebagai visi Presiden Joko Widodo yang akan dilanjutkan hanya menjadi mimpi, apabila hasil pemilu yang ada sekarang ini dipenuhi kecurangan-kecurangan.
“Oleh sebab itu saya mengatakan itu bukan Indonesia Emas, tapi Indonesia Cemas tahun 2045. Karena sekarang kita tahu yang terjadi itu apa. Sekarang bonus demografi, tapi yang namanya olahraga saja bayar. Mencari SDM petani sekarang susah,” tuturnya.
“Kalau kita mau membuat Indonesia Emas, kita perlu tahu situasinya ke depan seperti apa, dan SDM nya seperti apa. Kalau melihat hasil Pemilu kita, enggak usah mikir muluk-muluk lah, karena sekarang negeri kita ini masih begini,” demikian Koentjoro menutup.





























































































Beri Komentar