“Habis ketembak, dor, langsung lemes,” ujarnya.
Ia menyadari adanya penembakan tersebut, begitu pula pemboncengnya Satria.
Akan tetapi, Satria tak menyadari bahwa pelurunya masuk ke tangan.
Selanjutnya, AD mengantar Satria ke rumah temannya.
“Saya lalu pulang cek di rumah. Ternyata cuma sobek (bagian dada). Saya bersihkan terus tidur. Kalau Satria katanya langsung ke rumah sakit,” paparnya.
Sementara itu, AD mengaku tak mengetahui kondisi Gamma lantaran setelah penembakan, ketiga motor berpisah.
Bahkan, dirinya baru tahu Gamma meninggal dunia pada sore hari menjelang magrib atau hampir 18 jam setelah kejadian.
“Kami dan Gamma satu organisasi (paskibra) tapi tidak terlalu dekat karena dia adik kelas. Saya lebih dekat ke Satria,” tutur AD.
Akibat peristiwa itu, AD mengaku trauma. Orang tua tak memperbolehkan lagi keluar malam lebih dari pukul 22.00 WIB.
“Itu pertama kali keluar malam jam segitu. Biasanya mentok jam 10 malam,” ungkapnya.
Ketua Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Penyambung Titipan Rakyat (LBH Petir) Jawa Tengah, Zainal Abidin mengatakan, sudah memberikan pemahaman kepada kliennya untuk memberikan kesaksian tanpa kebohongan.
“Saya sampaikan ke AD berikan keterangan yang kamu lihat dan jangan takut,” terangnya.[]

















































































































