Menurut tradisi lisan Sunda, Prabu Siliwangi menolak untuk masuk Islam dan memilih untuk tetap memeluk agama leluhurnya.
Ia juga tidak mau menyerahkan diri atau melarikan diri ke tempat lain. Ia memutuskan untuk menjelma menjadi harimau putih, sedangkan para pengikutnya menjelma menjadi harimau loreng2.
Ada beberapa versi tentang proses penjelmaan Prabu Siliwangi menjadi harimau putih.
Salah satu versi mengatakan bahwa Prabu Siliwangi melakukan ritual mandi di sebuah sungai bersama para pengikutnya.
Kemudian, ia mengucapkan mantra sambil menggosok-gosokkan tubuhnya dengan tanah liat putih.
Setelah itu, ia berubah menjadi harimau putih.
Versi lain mengatakan bahwa Prabu Siliwangi melakukan ritual di sebuah gua bersama para pengikutnya.
Ia membakar dupa sambil membaca mantra.
Kemudian, ia mengenakan kulit harimau putih yang sudah disiapkan sebelumnya.
Setelah itu, ia berubah menjadi harimau putih.
Versi lain lagi mengatakan bahwa Prabu Siliwangi melakukan ritual di sebuah bukit bersama para pengikutnya. Ia menghadap ke arah matahari terbit sambil membaca mantra. Lantas, ia mengeluarkan pedang pusakanya dan menusukkannya ke tanah. Setelah itu, ia berubah menjadi harimau putih.
Legenda Prabu Siliwangi yang berubah menjadi harimau putih masih dipercaya oleh banyak masyarakat Sunda hingga kini.
Beberapa tempat di Jawa Barat dianggap sebagai lokasi penjelmaan Prabu Siliwangi, seperti hutan Sancang di Garut, hutan Cikandang di Ciamis, dan hutan Gunung Salak di Bogor.
Harimau putih juga dianggap sebagai simbol kebesaran dan keagungan Kerajaan Pajajaran yang pernah berjaya di masa lalu


















































































































Komentar Terbaru