UPDATE

OPINI
OPINI

Film Horor dan Krisis Spiritualitas: Menyoal Arah Perfilman Indonesia

Jika ini terus berlanjut, akan terjadi pergeseran nilai dalam masyarakat. Orang lebih takut kepada hantu daripada kepada Allah. Lebih percaya pada mitos dan ritual-ritual warisan nenek moyang daripada pada kekuatan tauhid dan doa. Inilah bahaya laten dari konsumsi tontonan horor yang masif dan tidak terfilter secara spiritual.

Horor dan Agama: Relasi yang Salah Kaprah

Beberapa sineas mencoba membela diri bahwa film horor dengan unsur agama adalah bagian dari “dakwah terselubung”. Mereka menghadirkan tokoh ustaz, ruqyah, pesantren, dan simbol-simbol Islam sebagai bagian dari jalan keluar dari gangguan jin. Namun, yang sering terjadi justru sebaliknya. Ustaz digambarkan sebagai ‘dukun modern’, pesantren sebagai tempat yang penuh rahasia kelam, dan doa sebagai mantera mistis, bukan sebagai ibadah.

Jika cara menyampaikan nilai agama seperti ini dibiarkan, maka akan terjadi kesalahpahaman besar di tengah masyarakat. Generasi muda akan melihat Islam hanya sebagai ‘alat perlawanan spiritual’, bukan sistem nilai yang meliputi akhlak, ilmu, dan amal. Ini bukan dakwah, melainkan banalitas terhadap agama.

Krisis Imajinasi dan Kemalasan Naratif

Pertanyaan besar lainnya adalah: ke mana perginya genre lain dalam perfilman Indonesia? Mengapa tema-tema seperti perjuangan ulama Nusantara, sejarah Islam, kisah inspiratif santri, atau fiksi ilmiah Islami sangat jarang diangkat?

Jawabannya bisa jadi adalah karena film horor adalah jalan pintas. Mudah dibuat, cepat balik modal, dan minim risiko. Tapi konsekuensinya sangat mahal: industri film kehilangan makna, masyarakat kehilangan arah, dan dakwah kehilangan medium.

Kita membutuhkan sineas Muslim yang berani melawan arus. Membuat film bukan sekadar untuk menakut-nakuti, tapi untuk mencerdaskan dan menyentuh hati. Seharusnya kita mampu menghadirkan film seperti The Message atau Omar dalam konteks lokal: tentang perjuangan ulama Aceh, resolusi jihad NU, atau kisah para dai di pedalaman.

Industri Film Sebagai Medan Dakwah

Sudah saatnya umat Islam menaruh perhatian lebih besar pada dunia perfilman. Film bukan sekadar tontonan, tetapi bisa menjadi alat pembentukan cara berpikir. Melalui film, seseorang bisa tertarik kepada agama, atau justru menjauhinya. Melalui film, seseorang bisa memahami tauhid, atau malah tenggelam dalam tahayul.

Oleh karena itu, komunitas Muslim harus mulai membangun ekosistem film sendiri. Mulai dari penulis skenario, sutradara, produser, hingga penonton, semuanya harus punya kesadaran bahwa film adalah medan perjuangan nilai. Kita tidak bisa terus-menerus membiarkan ruang kreatif diisi oleh narasi yang keliru dan menyesatkan.

Sumber data: BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika)
1 2 3

Bagaimana reaksi Kamu?

Diskusi

Terkait

Tampilkan Lainnya Loading...Tidak ada lagi data informasi lainnya.