BANDA ACEH -Inisiator Gerakan Nurani Kebangsaan (GNK), Habib Syakur Ali Mahdi Al Hamid, melontarkan kritik keras terhadap fenomena cancel culture yang menerpa Utusan Khusus Presiden Bidang Pembinaan Generasi Muda dan Pekerja Seni Raffi Ahmad setelah kehadirannya dalam acara Deklarasi Pemuda Mahasiswa Indonesia di Bundaran HI, Jakarta, yang digelar Polda Metro Jaya.
Menurut Habib Syakur, polemik tersebut harus menjadi pelajaran serius bagi seluruh figur publik, terutama mereka yang kini berada di lingkaran pemerintahan, agar tidak sembarangan mengambil sikap maupun terlibat dalam kegiatan yang berpotensi berbenturan dengan akal sehat dan sensitivitas masyarakat.
Ia menilai, seorang figur publik tidak boleh hanya menghitung keuntungan popularitas ketika memutuskan untuk tampil dalam suatu kegiatan. Ada tanggung jawab moral dan persepsi publik yang harus dipertimbangkan, terlebih ketika figur tersebut memiliki pengaruh besar dan basis penggemar yang luas.
“Jangan pernah menganggap masyarakat itu bodoh dan tidak punya ingatan. Publik punya penilaian, punya nurani, dan punya batas toleransi. Ketika seorang figur publik mengambil langkah yang dianggap menabrak akal sehat masyarakat, jangan kaget kalau kepercayaan publik bisa berbalik menjadi penolakan,” tegas Habib Syakur, Minggu (1/11/2026).
Ia juga menyoroti konsekuensi ekonomi yang berpotensi mengikuti polemik tersebut. Menurutnya, dampak cancel culture tidak selalu berhenti pada hujatan di media sosial, tetapi bisa merembet ke reputasi, kerja sama komersial, hingga bisnis yang berkaitan dengan figur bersangkutan.
Inisiator Gerakan Nurani Kebangsaan (GNK), Habib Syakur Ali Mahdi Al Hamid, melontarkan kritik keras terhadap fenomena cancel culture yang menerpa Utusan Khusus Presiden Bidang Pembinaan Generasi Muda dan Pekerja Seni Raffi Ahmad setelah kehadirannya dalam acara Deklarasi Pemuda Mahasiswa Indonesia di Bundaran HI, Jakarta, yang digelar Polda Metro Jaya.
Menurut Habib Syakur, polemik tersebut harus menjadi pelajaran serius bagi seluruh figur publik, terutama mereka yang kini berada di lingkaran pemerintahan, agar tidak sembarangan mengambil sikap maupun terlibat dalam kegiatan yang berpotensi berbenturan dengan akal sehat dan sensitivitas masyarakat.
Ia menilai, seorang figur publik tidak boleh hanya menghitung keuntungan popularitas ketika memutuskan untuk tampil dalam suatu kegiatan. Ada tanggung jawab moral dan persepsi publik yang harus dipertimbangkan, terlebih ketika figur tersebut memiliki pengaruh besar dan basis penggemar yang luas.


















































































































Komentar Terbaru