“Ketika hasil observasi kami bertemu di satu titik hipotesisi yang sama, kami sangat heran dan cemas. Heran karena kami bertiga sebelumnya belum pernah bertemu belum pernah diskusi tetapi temuan kami menghasilkan hasil yang sama!” tutur dokter Tifa.
Dari situlah kemudian muncul pertanyaan, yakni jangan-jangan dokumen soal ijazah Jokowi itu palsu.
“Maka pergilah kami ke UGM, tanggal 15 April 2025, tanpa janjian sebelumnya, dengan membawa niat ingin mendapatkan kejelasan, dan the rest is history,” ungkap dokter Tifa.
Orang yang punya dokumen ganjil dan foto-foto yang sangat meragukan itu rupanya marah, dan merasa terhina-hina, merasa terendah-rendah. “Dan merasa perlu memenjarakan kami dengan melaporkan kami ke polisi dengan pasal-pasal yang sangat berat hukumannya, yaitu 8.tahun dan 12 tahun,” tambah dokter Tifa.
“Seakan-akan tidak cukup dia memenjarakan Bambang Tri… seakan akan tidak cukup dia memenjarakan Gus Nur!” sambung dia.
Menurut dokter Tifa, sesungguhnya jika hatinya tidak jahat dan kejam, ketika Bambang Tri dan Gus Nur bertanya tentang ijazah, tinggal dia tunjukkan saja ijazah, sehingga menjadi selesai permasalahannya.
“Seakan tidak cukup, ketika kami bertiga bertanya tentang ijazah, hatinya yang jahat dan kejam, ingin membungkam kami dengan memenjarakan kami!” tegas dokter Tifa.
Lebih jauh dokter Tifa kembali menegaskan bahwa pihaknya tidak takut.
“Kalian semua bisa melihat sendiri, kami terus melanjutkan penelitian kami tentang ijazah yang meragukan itu, tentang foto-foto yang mencurigakan itu, dan kami terus sampaikan ke media dan tulisan dan karena kami sungguh ingin, rakyat semua tahu kebenaran, anak-anak dan masa depan negara ini tak lagi berada dalam kabut keraguan yang menggelisahkan,” bebernya.
Jadi, kata dokter Tifa, hanya orang-orang picik dan kusam pikirannya yang mengira pihaknya takut dengan adanya orang yang membikin meme Rismon, Roy Suryo, dan Tifa mengenakan baju tahanan.
“Penakut itu seperti kalian!. Yang hanya diam dan membisu. Yang keroyokan mem-bully dan menista kami. Tuhan tahu, apa yang di hati kami… kami hanya tidak mau gagal jadi manusia yang diberi otak cerdas oleh Allah, yang harus digunakan untuk berpikir dan memberi manfaat banyak,” tutur dokter Tifa.
Termasuk, dia menegaskan, untuk menguak kebenaran walaupun penuh onak dan duri serta pilu dan perih.
“Kami hanya tidak mau menghadap Tuhan nanti dengan malu. Karena membiarkan kebohongan terpampang di depan mata dan kami hanya diam saja seperti batu!” ujar dokter Tifa.


















































































































Komentar Terbaru