ACEH BESAR – Dalam rangka menyemarakkan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia ke-80, para santri Dayah Wakaf Barbate melaksanakan agenda wisata religi yang penuh makna. Kegiatan ini berlangsung sejak pagi, Jumat (22/8/2025), diikuti 25 santri, ustadz pendamping, serta pengurus yayasan.
Perjalanan spiritual para santri dimulai dengan ziarah ke makam salah satu ulama besar Aceh, Syekh Abdurrauf as-singkili, atau yang lebih dikenal dengan Syiah Kuala. Kunjungan ini menjadi momen berharga untuk meresapi semangat perjuangan dan keluasan ilmu yang beliau wariskan.
Agenda kemudian berlanjut ke Museum Tsunami Aceh, tempat para santri diajak untuk merenung dan mengambil pelajaran dari salah satu bencana alam terbesar dalam sejarah. Melalui artefak dan dokumentasi yang ada, mereka dapat memahami betapa pentingnya kebersamaan dan ketangguhan dalam menghadapi musibah.
Setelah itu, rombongan bertolak menuju ikon kebanggaan masyarakat Aceh, Masjid Raya Baiturrahman. Di sana, para santri menunaikan salat Jumat dan mengagumi keindahan arsitektur masjid yang megah. Momen ini memperkuat ikatan spiritual dan rasa cinta terhadap ajaran agama.

Perjalanan ditutup dengan mengunjungi Ulee Lheue dan objek wisata lain untuk bersantai sejenak, sebelum kembali ke dayah. Selain sebagai ajang rekreasi, kegiatan ini juga menjadi kesempatan untuk bersilaturahmi dengan pengurus dan para muhsinin.
Sekretaris Umum Yayasan Wakaf Barbate Islamic City, Zulfikar, yang mewakili Ketua Yayasan, menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan tersebut. “Wisata religi ini menjadi wadah pembelajaran yang sangat berarti bagi para santri. Kami berharap mereka tidak hanya mendapatkan hiburan, tetapi juga memperdalam rasa syukur, cinta tanah air, dan semangat kebersamaan,” ujarnya.
Lebih lanjut Zulfikar menyampaikan bahwa santri baru 2025 ini telah menunaikan program 40 hari masa pengenalan dan pembelajaran di Dayah Wakaf Barbate. Alhamdulillah santri lulus semua dan mereka senang belajar.
Salah seorang santri, Saif Al Hafizh (13) santri asal Gampong Lhok Mambang, Kec. Gandapura, Bireuen , turut mengungkapkan kesannya setelah mengikuti rangkaian kegiatan tersebut. “Saya sangat senang bisa berziarah ke makam ulama besar dan melihat langsung Museum Tsunami. Banyak pelajaran yang saya dapat, terutama tentang pentingnya bersyukur dan menjaga persatuan,” tuturnya dengan penuh antusias.
Dengan demikian, wisata religi ini tidak hanya menambah wawasan sejarah dan keagamaan para santri, tetapi juga menumbuhkan rasa syukur, kebersamaan, dan nasionalisme.














































































































