UPDATE

NASIONAL

Siapa Penjarah Rumah Ahmad Sahroni hingga Sri Mulyani? Ini Kata yang Ketinggalan Rombongan

Ahu terkejut saat diberitahu bahwa penjarahan terhadap rumah-rumah anggota dewan sudah dilakukan pada Sabtu sore.

“Udah ancur? Saya mau ke sana ditinggal!” kata Ahu.

Ia kembali bersumpah saat diberitahu Republika, baru  paham bahwa penjarahan sudah dilakukan.

“Mau baca berita bagaimana, Bang, hape tidak ada,” ia berusaha meyakinkan.

Saat diperlihatkan video penjarahan, Ahu mengaku mengenali sebagian penjarah.

“Itu yang naik ke atas mobil yang pegang hape sama jaket saya,” kata dia saat diperlihatkan video penjarahan dan perusakan kediaman politikus NasDem Ahmad Sahroni di Tanjung Priok, Jakarta Utara.

“Itu yang baju biru juga rombongan saya, Bang,” ia melanjutkan.

“Wah enak pada dapat barang-barang,” kata dia menyaksikan lebih lanjut rangkaian video penjarahan.

Ia juga tak heran saat ada brankas yang diangkut. “Kami hanya dikasih makan nasi bungkus saja tiga kali sehari,” ujarnya.

Jarahan di rumah-rumah anggota dewan tersebutlah yang dijanjikan sebagai keuntungan.

“Kami tak bayar, kata abangnya nanti ada brankas yang bisa diambil di rumah yang dijarah,” kata dia.

Terpisahnya sel-sel komando pasukan pengunjuk rasa dan penjarah itu membuat kisah Ahu tak bisa diverifikasi secara independen oleh media Republika. Yang jelas, pantauan saat penjarahan menunjukkan bahwa mereka bukan orang tempatan.

Di Jakarta Utara, misalnya, warga setempat mencoba mencegah penjarahan terhadap kediaman Ahmad Sahroni.

“Setahu saya udah sejak Ashar (penyerangannya), tapi nggak tahu tuh, mukanya banyak yang nggak kenal,” kata seorang ibu yang tengah mencari-cari anaknya di sela penjarahan.

Sekitar pukul 19.00 WIB, gang menuju rumah Sahroni ditutup oleh warga setempat.

“Sudah ya sudah habis,” ujar warga.

“Biar kami istirahat,” ujar warga yang lain.

Sementara tak semua yang berunjuk rasa pekan lalu adalah yang datang atas suruhan pihak tertentu. Bahkan hingga Ahad ini, saat tak ada lagi kerumunan massa di depan Kompleks Parlemen, masih saja ada yang datang hendak menyampaikan uneg-uneg.

“Saya jengkel beneran, Mas. Masak kita bayar listrik, beli beras, bayar pajak, dia orang DPR nggak bayar pajak,” kata Salimah (60 tahun), seorang ibu dari Kalibata, Jakarta Selatan.

Ia mengatakan hendak datang sejak kemarin-kemarin namun terhambat aqiqahan cucunya.

Siang itu, ia satu dari sedikit saja warga yang masih bertahan di depan pagar tameng aparat kepolisian dekat gerbang Kompleks Parlemen.

“Sekarang saya sudah bawa bekal. Ada nasi, minuman, ada roti. Sampe kapan juga demonya saya jabanin,” ujarnya berapi-api.

“Saya sudah minta izin sama Allah, mau demo sampai tobat itu anggota dewan,” ia melanjutkan sembari menyeka mata yang perih terkena sisa gas air mata.

Sumber data: BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika)
1 2 3

Bagaimana reaksi Kamu?

Diskusi

Terkait

Tampilkan Lainnya Loading...Tidak ada lagi data informasi lainnya.