Sikap Politik Pahlavi, termasuk dukungan terbukanya terhadap Israel, juga menuai kritik, terutama setelah perang singkat dengan Israel pada Juni 2025. Meski demikian, dia tetap mendapat sorotan luas dari media berbahasa Persia di luar negeri dan menjadi salah satu suara oposisi paling menonjol saat ini.
3. Demonstrasi meluas, pemerintah Iran perketat represi
Gelombang protes bermula pada 28 Desember 2025, menyusul runtuhnya nilai tukar rial yang kini menembus lebih dari 1,4 juta per dolar AS. Mata uang Iran telah kehilangan sekitar separuh nilainya sejak September 2025, memperdalam krisis ekonomi akibat sanksi internasional.
Kelompok HAM berbasis di AS, Human Rights Activists News Agency (HRANA), melaporkan sedikitnya 116 orang tewas dalam bentrokan antara demonstran dan aparat keamanan hingga awal pekan ini. Lebih dari 2.600 orang dilaporkan ditahan, sementara aksi protes tercatat terjadi di ratusan lokasi di seluruh 31 provinsi Iran.
Pemerintah Iran merespons dengan pengerahan aparat keamanan dan narasi keras. Jaksa Agung Iran, Mohammad Movahedi Azad, menyatakan para peserta kerusuhan akan diperlakukan sebagai ‘musuh Tuhan’, tuduhan serius yang dapat berujung hukuman mati. Media pemerintah juga menyiarkan rekaman yang menampilkan dugaan kekerasan oleh demonstran, termasuk penggunaan senjata api dan bom molotov.
Di tengah tekanan tersebut, masa depan politik Iran kembali menjadi tanda tanya besar. Sementara Reza Pahlavi berupaya menempatkan diri sebagai simbol perubahan, belum jelas apakah figur monarki lama itu mampu menyatukan spektrum luas oposisi Iran atau sekadar menjadi bagian dari dinamika politik yang kian terpolarisasi.


















































































































Komentar Terbaru