Para siswa berkumpul di depan kantor sekolah dalam kondisi lebih tenang. Namun situasi kembali berubah ketika Agus keluar dari kantor.
“Kami sudah tenang di depan kantor, tapi dia keluar bawa sapit rumput dan ngejar kami,” ucapnya.
Benda yang biasa digunakan untuk merawat halaman sekolah itu, dalam narasi siswa, menjadi simbol eskalasi konflik.
Ketegangan kembali memuncak saat siswa meminta Agus meminta maaf karena dianggap menghina orang tua mereka, permintaan yang, menurut MUF, tak mendapat respons.
“Pas saya dekat ke muka dia, saya ditinju di hidung,” katanya.
“Kalau tidak ditinju dulu, tidak akan ada pengeroyokan,” tegas MUF.
Pernyataan ini memperlihatkan bagaimana setiap pihak merasa berada di posisi reaktif, bukan agresor awal.
Jalur Hukum Dipilih
Agus Saputra akhirnya memilih membawa persoalan ini ke ranah hukum.
Didampingi kakaknya, Nasir, ia melaporkan kejadian tersebut ke Polda Jambi pada Kamis (15/1/2026).
“Adik saya dirugikan secara mental dan psikis, terlebih videonya viral di media sosial,” ujar Nasir.
Ia menyebut kondisi Agus sempat menurun pascakejadian.
“Adik saya sedikit pusing. Kita bikin laporan dari jam empat sore,” katanya.
Visum telah dilakukan dan hasilnya disiapkan sebagai barang bukti.
“Sudah ada visum dan ada bekas lebam,” ujar Nasir.
Di titik ini, konflik tak lagi hanya soal siapa memukul siapa.
Video yang telanjur viral telah menjadi jejak digital permanen, yang bukan hanya mencederai individu, tetapi juga wajah sekolah sebagai institusi pendidikan


















































































































Komentar Terbaru