Tak hanya itu, Taufiq juga mengungkap respons para saksi ketika ditanya soal gugatan CLS yang tengah berjalan.
Daftar Isi
“Dan yang paling prinsip dan sangat menentukan itu pertanyaan jebakan saya apa. Apakah anda merasa dirugikan dengan gugatan CLS. Semua saksi mengatakan dirugikan dengan gugatan CLS,” urainya.
Ia melanjutkan:
“Jadi kalau anda tahu, hakim itu dari awal pertanyaan itu saja. Nah ini saya balik, saya tidak tanya tentang Kedoyan. Saya tanya dulu tentang CLS, apakah UGM sudah melakukan recovery, apakah UGM sudah melakukan hal-hal yang menguntungkan masyarakat, dan ternyata mereka merasa dirugikan dengan adanya CLS,” lanjutnya.
Dugaan Adanya Sosok Joko Widodo yang Berbeda
Sebagai konteks, Jokowi diketahui menjalani KKN di Desa Ketoyan pada awal 1985 saat berstatus mahasiswa Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada (UGM).
Namun, berdasarkan rangkaian kesaksian tersebut, Taufiq menyimpulkan adanya indikasi perbedaan sosok Joko Widodo yang dimaksud para saksi.
“Dan yang pasti semua saksi mengatakan, meskipun mereka mendengar pernyataan Bu prof Dr dr Eva Amelia bahwa pak Jokowi alumni Universitas Gajah Mada tetapi tidak pernah ditunjukkan sehingga simpulan kami dalam persidangan ini, memang ada Joko Widodo tapi bukan Joko Widodo mantan presiden ketujuh,” bebernya.
Ia juga menyoroti munculnya nama panggilan yang dinilai janggal.
“Makanya lagi ada istilah yang tidak dikenal, bang Jack. Ini baru lagi, tidak mungkin nama bang Jack tidak melekat sampai hari ini, tidak mungkin,” imbuhnya.
Menurut Taufiq, sapaan tersebut hanya dikenal oleh segelintir orang.
“Jadi tidak mungkin kok namanya bang Jack kok hanya dikenal pada saat ini. Yang pasti sangat berbahagia dua foto itu kreasinya bapak Polisi. Dan tadi sangat janggal, masa mengenal pak Joko Widodo mengenal tidak memakai kacamata, yang saksi yang kedua. Bu Johana, kita tunjukkan foto pak Jokowi dia tidak mengenal pak Jokowi,” lanjutnya.
Penggugat Optimistis, Tegaskan Tak Ada Masalah Pribadi
Taufiq menilai jalannya persidangan justru menguatkan posisi penggugat.
Ia menyebut sidang ini menjadi momentum penting bagi publik.
“Artinya kami optimis karena ini memang ditunggu oleh bangsa Indonesia, karena yang dibutuhkan negara ini adalah orang yang jujur. Dan ketiga saksi meskipun menurut deskripsi mereka jujur. Mereka tidak jujur kecuali saksi yang ketiga. Cuma saksi yang ketiga dia jatuh, masak foto dengan orang yang terkenal tidak ada kenang-kenangannya,” tegasnya.
Ia juga menyoroti absennya bukti pembimbing KKN dalam persidangan.


















































































































Komentar Terbaru