BANDA ACEH — Pemerintah Aceh melalui Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Aceh melaksanakan kegiatan Kampanye Gerakan Memasyarakatkan Makan Ikan (Gemarikan) di Kota Banda Aceh, Selasa (10/3). Selain meningkatkan konsumsi ikan di masyarakat, kegiatan ini juga menjadi bagian dari langkah pengendalian inflasi daerah, khususnya pada komoditas pangan selama momentum Ramadhan.
Kampanye Gemarikan dilaksanakan di empat lokasi, yaitu SDLB Banda Aceh, SMK Cut Meutia Banda Aceh, kawasan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Kampung Jawa Banda Aceh, serta MTsN 1 Banda Aceh. Sasaran kegiatan meliputi anak berkebutuhan khusus, pelajar tingkat menengah, serta masyarakat marginal di wilayah pesisir.
Secara keseluruhan kegiatan ini menjangkau 800 peserta, dengan rincian masing-masing lokasi sebanyak 200 peserta. Dalam kegiatan tersebut, para penerima manfaat juga mendapatkan paket olahan ikan, dengan total 800 paket yang dibagikan kepada seluruh peserta.
Pelaksanaan kegiatan diawali dengan proses identifikasi dan verifikasi calon penerima manfaat serta koordinasi dengan pihak sekolah dan masyarakat setempat. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan penyerahan paket olahan ikan secara simbolis kepada pihak sekolah dan perwakilan masyarakat untuk selanjutnya disalurkan kepada para siswa dan penerima manfaat.
Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Aceh, Safrizal, menyampaikan bahwa Kampanye Gemarikan merupakan langkah strategis pemerintah dalam mendorong peningkatan konsumsi ikan sekaligus memperkuat pemanfaatan produk perikanan lokal di tengah dinamika harga pangan.
“Melalui Kampanye Gemarikan ini kita ingin menanamkan kebiasaan makan ikan sejak dini, terutama di kalangan pelajar. Ikan merupakan sumber protein yang sangat baik untuk mendukung tumbuh kembang anak serta meningkatkan kualitas sumber daya manusia,” ujar Safrizal.
Menurutnya, pelaksanaan kegiatan pada bulan suci Ramadhan juga memiliki makna penting, karena pada periode ini permintaan terhadap bahan pangan biasanya meningkat. Dengan memperkuat konsumsi produk perikanan lokal, pemerintah berharap dapat membantu menjaga stabilitas harga pangan di masyarakat.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Aceh menunjukkan bahwa inflasi Aceh pada Februari 2026 tercatat sebesar 6,94 persen secara tahunan (year-on-year/y-on-y), yang merupakan salah satu yang tertinggi di tingkat provinsi. Meski demikian, secara bulanan pada periode yang sama terjadi deflasi sebesar 0,24 persen (month-to-month/m-to-m).
Safrizal menjelaskan, kegiatan ini menjadi salah satu strategi penting dalam menjaga keseimbangan pasokan dan permintaan pangan di daerah sehingga diharapkan dapat menekan angka inflasi daerah.
















































































































Komentar Terbaru