UPDATE

TIMUR TENGAHINTERNASIONAL

Prediksi ‘Nostradamus China’ yang Menggemparkan: Iran Menang Perang, Tapi Al Aqsa Hancur

Realitasnya sekarang, kata Jiang, perang antara AS dan Iran adalah perang atrisi (panjang), dan Iran telah menyiapkan diri menghadapi pertempuran ini selama 20 tahun. Bahkan, Iran telah menggelar latihan perang secara realistis pada tahun lalu.

“Apa yang dilakukan Iran adalah sekaligus menabuh genderang perang melawan ekonomi global,” kata Jiang, sambil merujuk pada penutupan Selat Hormuz oleh IRGC.

Lewat kelasnya pada 10 Maret 2025, Jiang memberikan materi ‘Hukum Eskalasi’. Di kelasnya itu, Jiang memberikan tiga prediksi terbaru terkait perkembangan perang AS-Israel melawan Iran berdasarkan analisisnya menggunakan ‘game theory’.

Prediksi pertamanya, AS atau Trump akhirnya akan menerjunkan prajurit untuk menggelar operasi darat di Iran. Yang kedua, bom nuklir tidak akan digunakan pada perang ini. Dan prediksi ketiga, menurut Jiang, perang ini akan ikut membuat Masjid Al Aqsa di Tepi Barat hancur demi tujuan Israel atau bangsa Yahudi membangun Kuil Ketiga.

Untuk prediksi pertama dan kedua, Jiang menjelaskan dalam kelasnya pada 10 Maret. Sementara, untuk prediksi ketiga dia baru akan menjelaskannya pada jadwal kelas pekan depan.

Tangga eskalasi

Untuk menjelaskan prediksi AS akan melancarkan invasi darat dan bom nuklir tidak digunakan dalam perang ini, Prof Jiang menggunakan teori ‘tangga eskalasi’.

Menurutnya, AS menaiki satu persatu tangga eskalasi ini lantaran terus gagal mencapai tujuan perang yakni penggulingan kekuasaan yang ditargetkan sudah terjadi sejak awal perang.

Dalam konteks perang saat ini, tangga eskalasinya adalah pada awal perang AS bersama Israel melancarkan serangan cepat untuk menewaskan pemimpin Iran (decapitation strike).

Pada 28 Februari 2026, AS dan Israel melancarkan serangan mendadak ke Teheran yang kemudian dikonfirmasi oleh Iran dengan terbunuhnya Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dan beberapa jenderal IRGC.

Pada tahap kedua, AS kemudian menyerang instalasi atau markas militer Iran, dan ini juga tak berhasil. Sehingga apa yang dilakukan oleh AS selanjutnya adalah embargo ekonomi, yang pada dasarnya adalah mencegah untuk bertransaksi dagang dengan dunia.

Tahap ketiga, AS menyerang infrastruktur sipil yang adalah sumber daya air dan minyak. Pada tahap inilah sekarang tangga eskalasi perang sedang berada.

Menurut Prof Jiang, Iran dalam perang ini memiliki lebih banyak strategi dan kalibrasi. Contoh paling nyata adalah Iran segera menutup Selat Hormuz beberapa hari setelah serangan pertama AS-Israel terjadi.

“Dengan menutup Selat Hormuz, terciptalah strategi kalibrasi, yang membuat Iran, secara selektif menerapkan tekanan terhadap sekutu AS sehingga mereka sekarang menjadi ‘teman’ Iran,” kata Jiang.

Sumber data: BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika)
1 2 3 4

Bagaimana reaksi Kamu?

Diskusi

Terkait

Tampilkan Lainnya Loading...Tidak ada lagi data informasi lainnya.