UPDATE

NASIONAL

Kesaksian Penumpang Gerbong Wanita dalam Insiden Kereta di Bekasi Hingga Selamat dari Kecelakaan

Di balik riuh kepanikan dan deretan panjang nama penyintas, terselip kisah Sausan Sharifa.

Ia adalah satu dari sekian jiwa yang berhasil lolos dari dekapan maut dalam kecelakaan hebat yang menghancurkan dua rangkaian kereta tersebut.

Kini, dari ranjang perawatan RSUD Kota Bekasi, Sausan berbagi cerita dengan nada suara tenang yang berbalut syukur mendalam.

Baginya, malam mencekam itu bukan sekadar tentang benturan keras dan jeritan pilu yang membelah malam, melainkan tentang sebuah keajaiban yang menyapanya—tepat setelah ia menuntaskan ibadah.

Malam itu, KRL Commuter Line rute Jakarta-Cikarang yang ditumpangi Sausan terpaksa tertahan di Stasiun Bekasi Timur.

Rangkaian tersebut berhenti bukan karena jadwal normal, melainkan akibat efek domino insiden lain; sebuah KRL dari arah sebaliknya tengah menabrak mobil taksi di jalur yang sama.

Nahas, saat ketidakpastian menyergap di tengah pemberhentian itu, maut melaju cepat dari arah belakang.

Kereta Jarak Jauh Argo Bromo Anggrek menghantam keras gerbong belakang KRL—titik yang dikhususkan bagi penumpang wanita.

Di sanalah Sausan berada.

Senin itu, Sausan menjalankan rutinitas spiritualnya: Puasa Sunnah Senin-Kamis.

Hanya berselang beberapa menit sebelum benturan logam yang mengerikan itu terjadi, ia baru saja membatalkan dahaganya.

“Kemarin kan Senin, iya puasa. Habis buka puasa, he’eh,” kenang Sausan saat ditemui Tribunnews.com, di RSUD Kota Bekasi, Selasa (28/4/2026).

Belum lama rasa syukur menyertai tegukan airnya, guncangan hebat melontarkan.

Di tengah jerit tangis dan gelap yang seketika menyergap gerbong khusus wanita tersebut, Sausan secara ajaib berhasil dievakuasi dalam kondisi selamat dari tumpukan logam yang ringsek.

Banyak yang mungkin akan mengaitkan keselamatannya secara langsung dengan amalan puasanya hari itu.

Namun, Sausan menunjukkan sisi kepribadian yang luar biasa rendah hati.

Ia menolak untuk terlihat jemawa atau mengeksploitasi ibadahnya sebagai “jimat” keselamatan.

Saat ditanya apakah rutinitas puasanya yang menjadi perisai dari maut, ia tersenyum tipis dengan tatapan tulus.

Menurutnya, ia berhasil keluar hidup-hidup semata-mata karena pertolongan Tuhan yang begitu nyata.

“Enggak sih (selamat semata karena puasa), karena Allah baik saja sama saya,” ucap Sausan lirih.

Bagi Sausan, keselamatan ini murni bentuk kasih sayang Sang Pencipta dan bukan ajang pamer keshalehan.

Ia menjadikan tragedi ini sebagai momentum untuk merenungi kesempatan hidup kedua, di tengah duka yang juga menyelimuti keluarga korban lainnya, termasuk almarhumah Nuryati yang juga berpulang dalam tragedi yang sama.

Sumber data: BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika)
1 2 3 4

Bagaimana reaksi Kamu?

Diskusi

Terkait

Tampilkan Lainnya Loading...Tidak ada lagi data informasi lainnya.