UPDATE

OPINI
OPINI

Khutbah Kematian Akal Sehat: Sebuah Panduan Menjadi Baut yang Taat

Oleh: Syarifudin Brutu1

SELAMAT kepada kita semua! Akhirnya, negara secara resmi mengakui bahwa memiliki cita-cita menjadi pendidik adalah sebuah cacat logika. Kebijakan Kemendiktisaintek untuk menutup prodi kependidikan karena “tak relevan dengan industri” adalah sebuah mahakarya komedi hitam yang layak mendapatkan standing ovation dari seluruh ekskavator di negeri ini.

​Mari kita bedah kegoblokan struktural ini dengan gaya yang paling sopan namun menusuk:

​Logika “tak relevan” ini sungguh revolusioner. Pemerintah ingin kita fokus pada energi, pangan, dan teknologi tinggi, tapi ingin mematikan pabrik pembuat gurunya. Ini ibarat ingin membangun gedung pencakar langit setinggi langit 2045, tapi memutuskan untuk memecat semua tukang batu dan arsitek karena “dunia masa depan hanya butuh penghuni penthouse”. Siapa yang akan mengajari calon insinyur energi itu membaca dasar sirkuit kalau gurunya sudah kita paksa jadi manusia silver di lampu merah karena dianggap “oversupply”?

​Pak Sekjen dengan bangganya memamerkan angka 470.000 lulusan yang tak terserap. Solusinya bukan memperbaiki distribusi guru ke pelosok Aceh Singkil atau pelosok Papua yang masih kekurangan pengajar, tapi justru menutup pintunya sekalian. Ini logika yang sangat “sat-set”: kalau ada banyak orang lapar, jangan perbanyak makanan, tapi bubarkan saja perutnya. Masalah selesai. Tidak ada perut, tidak ada lapar. Tidak ada prodi guru, tidak ada pengangguran terdidik. Yang tersisa hanyalah pengangguran tidak terdidik yang—kabar baiknya—lebih mudah disuruh-suruh membabat hutan tanpa banyak tanya soal Amdal.

​Jargon “Indonesia Emas 2045” kini punya definisi baru: Emas yang dimaksud adalah logam murni yang dikeruk dari perut bumi setelah hutannya kita gunduli habis-habisan. Kita sedang menuju peradaban di mana dompet segelintir orang bengkak secara tidak sehat, sementara kepala rakyatnya kosong melompong. Di negeri hilirisasi ini, sekolah adalah kejahatan jika tidak mengajarkan cara menjadi budak yang patuh. Jika kau lulus tapi masih tahu cara berpikir kritis, kau adalah kegagalan sistem. Kau dianggap melecehkan nama baik negara karena punya kualifikasi yang “terlalu pintar” untuk sekadar memegang sekop.

​Bagi pemerintah, pengangguran adalah dosa besar, bukan karena mereka gagal menyediakan lapangan kerja, tapi karena si penganggur lancang memiliki ekspektasi. Seharusnya kita semua tidak usah belajar agar tidak tahu apa itu “hak”, tidak tahu apa itu “keadilan”, dan tidak tahu bahwa kita sedang diperas. Dengan begitu, kita bisa menerima nasib menjadi buruh kasar dengan upah receh tanpa merasa terhina.

​Jadi, kawan-kawan mahasiswa pendidikan, berhentilah belajar. Bakar buku-bukumu, pakailah abu pembakarannya untuk menghitamkan wajahmu agar pas saat meminta-minta di bawah lampu merah nanti. Di negeri ini, masa depan tidak butuh cahaya budi, masa depan hanya butuh kilau logam dan raung mesin.

​Selamat datang di masa depan yang relevan. Di mana kita punya sejuta pabrik, tapi tak punya satu pun manusia yang bisa menjelaskan kenapa kita harus tetap hidup.

​Goblok? Oh, tidak. Ini namanya Efisiensi Nasional!
Hidup mahasiswa Pendidikan!… Setidaknya untuk waktu yang tak lama lagi. (*)

  1. Mahasiswa FKIP Bahasa Indonesia USK[↩]
Sumber data: BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika)
Story Terbaru
Tidak dapat memuat data story terbaru.
MEMUAT STORY...

Bagaimana reaksi Kamu?

Diskusi

Terkait

Tampilkan Lainnya Loading...Tidak ada lagi data informasi lainnya.