Hantavirus ini, menurut Puslitbang Kesehatan, mulai mendapat perhatian dunia pada 1951. Saat itu, virus Hantaan (HTNV)–salah satu varian Hantavirus ini–mewabah di kalangan pasukan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang bertugas di sekitar Sungai Hantaan, Korea Selatan. Sebanyak lebih dari 2.000 pasukan AS tertular kala itu. Sebagian diantaranya meninggal.
Dari situ, Hantavirus dengan berbagai variannya mulai menyebar ke seluruh dunia. Diduga, perantaranya melalui jalur pelayaran. Di Asia, Hantavirus mengambil bentuk sebagai virus Hantaan dan Seoul (SEOV). Sedangkan di Eropa, dia berbentuk virus Puumala (PUUV), Dobrova (DOBV), dan Saremaa (SAARV).
Gejala dari seluruh varian tersebut berupa serangan demam berdarah dengan sindrom ginjal (renal). Demam tinggi akan menyerang manusia yang tertular, berikut sakit kepala, dan nyeri perut.
Persis seperti demam berdarah yang ditularkan nyamuk Aides aegypti. Bila tak ditangani dengan segera, gagal ginjal akan diikuti gejala-gejala di atas. Akibat akhirnya adalah kematian.
Laporan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada 1982 tentang demam berdarah dengan sindrom ginjal, memperlihatkan, angka kematian yang bisa ditimbulkan penyakit lantaran virus ini tak bisa dianggap remeh. Persentase kematian akibat virus ini adalah lima sampai 15 persen. Jauh di atas kematian akibat virus flu A-H1N1 atau flu Meksiko yang 0,8 persen.


















































































































Komentar Terbaru