Meski demikian, ia menekankan bahwa kesehatan reproduksi dipengaruhi banyak faktor sehingga pengurangan paparan BPA perlu dilihat sebagai bagian dari upaya pencegahan secara menyeluruh.
Di Indonesia, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) telah menetapkan batas migrasi BPA maksimum sebesar 0,6 mg/kg atau setara 0,6 bagian per juta pada kemasan pangan. Regulasi tersebut ditetapkan untuk menjaga keamanan produk yang beredar di masyarakat.
Sementara itu, Psikolog Ratih Zulhaqqi menilai pencegahan pubertas dini juga berkaitan erat dengan kesiapan orang tua dalam memahami tumbuh kembang anak.
“Pubertas dini ini kan sebenarnya bukan permasalahan pada saat mereka pubertas aja, justru dari sebelum-sebelumnya kan, ketika mereka mau jadi orang tua,” ujarnya.
Menurut Ratih, perhatian terhadap kesehatan anak perlu dimulai dari hal-hal mendasar seperti pola makan, kualitas tidur, aktivitas fisik, serta jenis makanan dan minuman yang dikonsumsi sehari-hari.
Ia mengingatkan bahwa banyak orang tua masih berfokus pada pendidikan formal, padahal kesehatan biologis anak juga dipengaruhi oleh lingkungan dan pola hidup yang diterapkan sejak dini.
Karena itu, para pakar mengingatkan pentingnya membangun kesadaran keluarga mengenai berbagai faktor lingkungan yang dapat memengaruhi kesehatan hormon dan reproduksi. Orang tua dapat mulai dengan memperhatikan jenis kemasan makanan dan minuman yang digunakan, membaca informasi pada label produk, serta memilih produk yang mencantumkan keterangan bebas BPA apabila tersedia.
Langkah tersebut bukan untuk menimbulkan kekhawatiran berlebihan, melainkan sebagai bagian dari upaya preventif dalam menciptakan lingkungan yang lebih sehat bagi tumbuh kembang anak sejak masa perencanaan kehamilan hingga dewasa.


















































































































Komentar Terbaru