Sudaryono menjelaskan sejak awal dirinya dan para narasumber membuka ruang seluas-luasnya bagi mahasiswa, untuk bertanya maupun mengkritik kebijakan pemerintah.
“Ditanya apa saja tidak masalah. Diadili seperti apa saja juga tidak masalah. Kami hadir untuk berdialog secara demokratis,” katanya.
Namun, di tengah jalannya forum, Sudaryono menyebut, terdapat sekelompok peserta yang tidak menginginkan diskusi dilanjutkan, sehingga situasi menjadi tidak kondusif.
“Kami sempat berdiskusi sekitar 30 sampai 40 menit. Tetapi kemudian ada sekelompok orang yang menginginkan forum dihentikan. Padahal sebagian besar mahasiswa justru ingin mendengar dan berdialog,” ungkapnya.
Sudaryono mengaku tetap bertahan di lokasi bersama Nusron Wahid, karena meyakini dialog merupakan jalan terbaik untuk menyelesaikan perbedaan pandangan. Namun, kata dia, situasi semakin memanas setelah terjadi pelemparan air dan dugaan tindakan fisik.
“Saya merasa ada yang memukul saya. Ada pelemparan air juga. Karena situasi sudah tidak kondusif, pihak keamanan menyarankan kami keluar,” ujarnya.
Sudaryono membantah anggapan dirinya bersama rombongan meninggalkan lokasi, karena menghindari dialog.
“Kalau ada yang mengatakan Sudaryono dan Nusron kabur, itu tidak tepat. Justru kami yang datang untuk berdiskusi. Bahkan saat mobil kami dicegat dan kami dicari-cari, kami keluar lagi dan duduk bersila di aspal untuk melanjutkan dialog,” tegasnya
Aksi saling dorong antara mahasiswa dan tim keamanan pun tak terhindarkan. Guna mencegah kondisi semakin memanas, Nusron dan Sudaryono akhirnya bergegas meninggalkan lokasi dengan kendaraan masing-masing.


















































































































Komentar Terbaru