UPDATE

NASIONAL

8 Jam Menunggu Maut, Pasien Minta Kamar, Malah Disuruh Potong Nadi

Kemenkes mengecam perilaku tersebut dan mengingatkan pentingnya etika bermedia sosial. BPJS Kesehatan menegaskan peserta aktif berhak memperoleh pelayanan setara tanpa diskriminasi. Ombudsman juga menyoroti potensi maladministrasi.

Semua bergerak. Sayangnya, semuanya bergerak setelah Yurizal pergi.

Inilah ironi paling pahit. Yurizal tidak menyebut rumah sakit karena takut diskriminasi akibat BPJS. Namun diskriminasi justru datang melalui orang-orang seharusnya menjadi bagian dari sistem penyembuhan.

BPJS bukan kartu kelas dua. Pasien bukan karung tinju. Kemiskinan bukan dosa. Profesi kesehatan bukan lisensi untuk kehilangan empati.

Dokter dan nakes memang manusia. Bisa lelah, stres, jenuh, bahkan marah. Tetapi pasien juga manusia. Mereka datang bukan untuk dihina, melainkan untuk ditolong.

Kasus Yurizal harus menjadi tamparan keras. Pelayanan kesehatan tidak cukup hanya dengan obat, infus, kamar, dan alat canggih. Ia membutuhkan sesuatu yang tidak dijual di apotek, kemanusiaan.

Kita tidak bisa mengembalikan Yurizal. Tetapi kita bisa memastikan keluhannya tidak mati bersamanya. Sebab suatu hari nanti, semua manusia akan mendapat nomor antrean yang sama. Namanya kematian. Semoga ketika giliran kita tiba, di samping kita masih ada manusia. Bukan monster yang memegang keyboard.

(Mantan Wartawan)

Sumber data: BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika)
1 2

Bagaimana reaksi Kamu?

Diskusi

Terkait

Tampilkan Lainnya Loading...Tidak ada lagi data informasi lainnya.