“Setiap gunung punya sistem magmatik sendiri. Jadi kita tidak bisa mengatakan karena Anak Krakatau aktif, kemudian Semeru ikut aktif atau sebaliknya,” ujarnya.
Pemantauan Geofisika
Fian mengatakan pemantauan geofisika dapat membantu memahami perubahan yang terjadi di bawah permukaan gunung api. Salah satu pendekatan yang digunakan dalam risetnya adalah metode geofisika untuk mengetahui kondisi bawah permukaan dan mendeteksi perubahan yang mungkin berkaitan dengan aktivitas vulkanik.
“Kami mencoba melihat apakah ada aktivitas baru atau sinyal pendahulunya. Jadi, ada sinyal geofisika yang mungkin muncul sebelum letusan,” katanya.
Menurut dia, apabila pola sinyal tersebut dapat dikenali melalui penelitian dan didukung data yang memadai, informasi tersebut berpotensi meningkatkan pemahaman terhadap aktivitas gunung api.
Namun, metode tersebut belum dapat diartikan sebagai alat yang mampu memastikan kapan sebuah gunung akan meletus.
“Yang paling penting tetap pemantauan. Kita tidak bisa mengatakan gunung akan meletus hanya berdasarkan satu parameter,” ucapnya.
Fian meminta masyarakat tidak panik menyikapi aktivitas sejumlah gunung api yang terjadi dalam waktu berdekatan. Masyarakat tetap diminta waspada dengan mengikuti informasi resmi dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), serta Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).[]


















































































































Komentar Terbaru