UPDATE

NASIONAL

Angkat Dua Anaknya Jadi Tenaga Ahli, Menhaj Gus Irfan Disentil: Kiamat Sudah Dekat

Untuk mengatasi kekurangan tersebut, Kemenhaj tidak melakukan rekrutmen ASN baru, tetapi membuka kesempatan mutasi ASN dari instansi lain.

Proses mutasi telah berlangsung dalam dua gelombang, meski sejumlah jabatan masih kosong dan tugasnya harus dirangkap pejabat lain.

Kementerian juga mengerahkan tenaga alih daya untuk membantu operasional dan pelayanan kepada jemaah haji.

“Karena itu semua sumber daya kita kerahkan. Termasuk outsourcing-outsourcing kita kerahkan untuk menutup kekurangan itu. Dan alhamdulillah 2026 dianggap sebagai haji yang paling berhasil dibanding tahun-tahun sebelumnya,” ujar Gus Irfan.

Ia menambahkan, personel yang tersedia dikerahkan dengan mempertimbangkan kompetensi yang dibutuhkan untuk menjaga pelayanan kepada jemaah.

Evaluasi akan dilakukan secara bertahap seiring pemenuhan kebutuhan pegawai.

Kekurangan pegawai tersebut menjadi bagian dari konteks yang dijelaskan Gus Irfan.

Namun, persoalan kebutuhan sumber daya manusia tetap perlu dibedakan dari pertanyaan mengenai tata cara penunjukan tenaga ahli dan kesesuaian kualifikasi orang-orang yang mengisi jabatan tersebut.

Transparansi Jadi Kunci Menjawab Kritik Publik

Polemik pengangkatan dua putra Gus Irfan kini menempatkan transparansi dan akuntabilitas Kemenhaj dalam sorotan.

Kritik Saiful Mujani memperlihatkan bahwa keputusan pejabat yang melibatkan anggota keluarga dapat memunculkan kecurigaan publik, terutama ketika informasi mengenai proses seleksi dan dasar penunjukan belum sepenuhnya terang.

Di sisi lain, Gus Irfan telah menyampaikan alasannya mengenai kondisi awal pembentukan BP Haji, bantuan yang diberikan orang-orang terdekatnya, serta keterbatasan pegawai di kementerian.

Penjelasan tersebut penting sebagai bagian dari klarifikasi, tetapi belum dengan sendirinya menuntaskan pertanyaan mengenai mekanisme pengangkatan kedua putranya.

Kementerian perlu menjelaskan dasar keputusan, kualifikasi yang digunakan, serta tanggung jawab masing-masing tenaga ahli.

Kejelasan itu akan membantu publik menilai persoalan berdasarkan informasi yang dapat diperiksa, bukan sekadar dugaan atau pembelaan dari pihak yang menjadi sorotan.

Pada akhirnya, ukuran profesionalisme birokrasi bukan hanya jumlah pegawai atau beratnya tantangan organisasi.

Kepercayaan masyarakat juga bergantung pada proses pengisian jabatan yang transparan, kompetensi yang dapat dipertanggungjawabkan, serta pengelolaan konflik kepentingan secara terbuka

Sumber data: BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika)
1 2 3

Bagaimana reaksi Kamu?

Diskusi

Beri Komentar

Sudah punya akun anggota? Masuk di sini untuk memakai profil & avatar Anda.

Terkait

Tampilkan Lainnya Loading...Tidak ada lagi data informasi lainnya.