UPDATE

OPINI
OPINI

Pindah ke Ibukota Nusantara

OLEH: DR. IR. SUGIYONO, MSI

KEPADATAN penduduk di Provinsi Daerah Khusus Jakarta sebesar 12.985 orang per kilometer persegi tahun 2023, yang merupakan provinsi penduduk terpadat di Indonesia.

Advertisements
Selamat Hari Tentara Nasional Indonesia ke-81

Untuk mengurangi tekanan terhadap potensi dampak negatif yang ditimbulkan oleh tekanan daya dukung lahan permukiman, perkantoran, dan lain sebagainya, maka pilihan alternatif secara sangat sederhana adalah dengan cara memindahkan penduduk, bahkan pemindahan kota administratif ibukota negara ke provinsi yang mempunyai tingkat kepadatan penduduk tergolong jarang.

Lokasi provinsi yang mempunyai tingkat kepadatan penduduk terjarang adalah Provinsi Papua dengan kepadatan 6 orang per kilometer persegi pada tahun 2023.

Kemudian Provinsi Kalimantan Tengah, atau Kalimantan Timur yang masing-masing mempunyai tingkat kepadatan penduduk serba sama sebesar 12 orang per kilometer persegi.

Provinsi Papua berada di wilayah Indonesia Timur, paling ujung. Oleh karena itu ditinjau dari kepadatan penduduk yang paling jarang dan terdapat keseimbangan lokasi geografis, maka provinsi yang terpilih adalah Kalimantan Tengah atau Kalimantan Timur.

Kemudian ditinjau dari provinsi yang mempunyai pelabuhan laut untuk kemudahan kegiatan ekspor dan impor menggunakan armada kapal laut, maka dapat dimengerti apabila pilihan lokasi ibukota yang baru adalah di Provinsi Kalimantan Timur.

Sebenarnya dari lubuk hati yang paling dalam, kepindahan ibukota negara ke Nusantara sulit disangkal, selain yang dipersoalkan adalah mengapa sekarang, apa memulai pembangunan ibukota negara tidak dapat senantiasa ditunda-tunda sepanjang masa ke dasawarsa-dasawarsa berikutnya.

Argumentasi yang digunakan adalah tentang prioritas kemampuan keuangan negara. Pertimbangan lainnya seperti kesiapan pemenuhan kebutuhan air baku bermutu, listrik, rumah sakit, klinik, dan puskesmas, jembatan, kendaraan umum, jalan tol, bandar udara internasional, kereta api, pelabuhan laut berskala internasional, menaikkan kepadatan penduduk, membangun hotel, perkantoran, pasar, sekolahan dan universitas, memasukkan investasi swasta, BUMN, dan asing, dan seterusnya.

Sekarang, satu-persatu kebutuhan dasar membangun ibukota negara itu sedang dipersiapkan secara sangat bertahap.

Aspirasi yang ingin serba menunda untuk pindah ibukota, bahkan menolak, antara lain karena pertimbangan kekhawatiran kekurangan air, khawatir sebagai daerah berpotensi gempa bumi, tanahnya mengandung banyak kandungan mineral dan batubara, maupun urusan kekhawatiran mendapat serangan binatang buas, atau khawatir mendapat penolakan oleh penduduk setempat yang mungkin belum dapat menerima akulturasi budaya secara sangat cepat, bahkan berpotensi terjadi perubahan budaya dari tradisional berubah secara drastis menjadi revolusioner.

image_print

1 2

Bagaimana reaksi Kamu?

Beri Komentar

Terkait

Tampilkan Lainnya Loading...Tidak ada lagi data informasi lainnya.