UPDATE

NASIONAL
NASIONAL

Elit PDIP Jangan Baper: Dengan Stau Tanpa Jokowi Hattrick!

LANGKAH Politik Gibran Rakabuming Raka (Gibran) maju sebagai bakal calon wakil presiden (bacawapres) mendampingi bakal calon presiden (bacapres) Prabowo Subianto (Prabowo), bukan kejadian luar biasa. Gibran menduplikasi proses bapaknya, Presiden Joko WIdodo (Jokowi). Oleh PDIP, Jokowi yang belum selesai tugasnya sebagai wali kota Solo, didorong maju menjadi calon gubernur DKI Jakarta. Kemudian didorong (lagi) oleh PDIP maju sebagai calon presiden meski baru 2 tahun menjadi gubernur DKI Jakarta. PDIP menjadi pelopor sekaligus fasilitator  proses kesusu Jokowi meraih kekuasaan politik.

Pilihan Gibran kesusu menjadi bacawapres Prabowo, bukan pengkhianatan, juga bukan aji mumpung. Gibran hanya sedang melakoni proses yang lebih cepat dari proses Jokowi. Gibran menunjukkan bahwa anak harus lebih baik dan lebih cepat dari bapaknya. Anak presiden (Gibran) tidak boleh kalah sama anak orang biasa (Jokowi). Jika anak orang biasa (Jokowi) mampu 2 kali mengalahkan mantan menantu presiden, anak mantan menteri (Prabowo), maka Gibran (anak presiden) memilih menjadi juruselamat politik penentu kemenangan Prabowo (mantan menantu presiden). 

Gibran menjadi satu- satunya yang dapat memberi harapan bagi Prabowo untuk mewujudkan mimpinya, sebagai macan asia. Gibran meyakini memiliki kapasitas untuk menjadi wakil presiden, dan pasti bisa menang, berpasangan dengan mantan menantu presiden Soeharto, penguasa orde baru (Prabowo). Bedanya, mengapa tanpa PDIP? Karena Gibran tidak mau sama dengan bapaknya, yang setiap saat disebut petugas partai.

Senjata Makan Tuan PDIP

Meski belum melakukan perang terbuka, elit PDIP dipastikan marah kepada Jokowi dan keluarganya. Elit PDIP mulai mengungkit jasa politik kepada Jokowi dan keluarganya. Cap penghianat, kacang lupa kulitnya, tidak tau diri, dan tidak tau berterima kasih, mulai, dan akan dilekatkan kepada Jokowi dan keluarganya. Namun PDIP masih menahan diri, sedang melakukan kalkulasi politik, karena melakukan perang terbuka kepada Jokowi saat ini lebih banyak mudarat daripada manfaatnya. Para elit PDIP makin galau, sementara Jokowi dan keluarganya santai dan santuy saja menikmati proses bersama badut- badut politik, pimpinan partai pemuja asal pakde senang (APS).

Sikap dan tindakan Gibran dapat dimaknai sebagai kritik terhadap sistem demokrasi internal PDIP. Sekaligus menjadi tamparan keras dan alarm  kepada PDIP  agar berubah atau tergilas zaman. Para elit PDIP harus menanggalkan dan meninggalkan feodalisme dan kultus individu. Penggunaan istilah tegak lurus dan demokrasi terpimpin, yang selalu digaungkan, kini ambruk akibat ulah anak kecil (istilah Panda Nababan), Gibran. Perlakuan istimewa PDIP kepada Jokowi dan keluarganya, menjadi senjata makan tuan. PDIP pasrah dan tega membunuh karir politik kader- kadernya demi memenuhi ambisi dinasti politik dan kekuasaan putra sulung Jokowi, Gibran dan menantu Jokowi, Bobby Afif Nasution, yang kesusu maju sebagai calon walikota.

image_print
1 2 3 4
Story Terbaru
MEMUAT STORY...

Bagaimana reaksi Kamu?

Beri Komentar

Terkait

Tampilkan Lainnya Loading...Tidak ada lagi data informasi lainnya.