Di Hongkong, Om Willy punya nama sendiri, yakni Billy Chong. Siapa yang mencetuskan nama tersebut?
Jadi, seorang produser di sana yang bikin nama itu karena berkeberatan dengan nama Willy Dozan. Katanya, agak asing untuk di internasional dan kayak nama orang Filipina.
Dari sekian banyak film Mandarin yang diperankan, momen apa yang paling memorable bagi Om Willy selama syuting di sana?
Waktu garap film A Hard Way to Die atau Sun Dragon karena pemainnya rata-rata juara bela diri semua. Kami syuting di Amerika, Green Canyon, Arizona, Eldorado, Texas, dan Phoenix. Di Phoenix itu kan kaktus tumbuh tinggi-tinggi, pemandangannya indah, tapi banyak ular derik. Pernah saya udah siap fighting, eh ada ular nyamperin, wah pada kabur semua. Akhirnya pindah lokasi sampai empat kali, capek. Sangat terganggu dengan ular derik itu karena bisa mati terkena bisanya. Apalagi, larinya cepat sekali.
Cedera apa saja yang pernah dialami saat berlaga?
Saya pernah pingsan tiga jam ketika syuting A Fistful of Talons. Jadi, waktu itu saya jatuh dari ketinggian 4 meter. Seharusnya aman, tapi saya jatuh tidak pada tempatnya. Terus jidat pernah robek kena sling besi. Nah, kaki kiri saya sekarang rada cacat karena dulu lompat pakai trampolin untuk menendang sebuah pohon. Tapi, lagi-lagi nggak tepat, padahal itu pohon sebetulnya udah digergaji, tinggal ditendang doang. Dan, terkilirlah kaki saya.
Apa aja sih perbedaan syuting di Hongkong dan di dalam negeri?
Di sana cerita sejarahnya dibuat mendetail. Properti yang digunakan untuk syuting juga begitu. Misalnya, filmnya bercerita tentang kerjaan 1930, ya beneran bentuk asli dan disesuaikan skenarionya. Kalau di kita kan nggak, rada asal, yang penting hiburan. Kadang aneh, desain rumahnya nggak jelas alias nggak nyambung.
Selain itu apa lagi, Om?
Di sana orang-orangnya sangat professional. Calling pukul 09.00, itu on time. Waktu saya menyutradarai Deru Debu pada 1994, mau menerapkan metode cara kerja di Hongkong di sini tuh nggak bisa. Calling pukul 09.00, bisa mulai pukul 12.00. Hahaha.
Selama meniti karier, perjuangan ketika di fase apa yang paling memberi Om pelajaran?
Ya waktu saya pindah-pindah kos itu sekitar 1977–1978. Sebab, waktu itu ya nyari yang murah. Pada zaman itu, biaya kos sebulan masih Rp 15 ribu. Bahkan, saya pernah diusir karena belum membayar kos waktu ngekos di Mangga Besar, Jakarta Pusat. Hahaha.
Lalu, bagaimana pandangan Om selaku artis laga senior dengan perkembangan film maupun aktor laga sekarang?
Menurut saya, industri film laga di sini agak merosot ya, udah nggak muncul lagi bahkan. Zaman dulu, selain saya, ada Berry Prima, Advent Bangun, dan lainnya. Kemudian dilanjut Joe Taslim dan Iko Uwais. Nah, setelah mereka ini belum kelihatan lagi generasi berikutnya. Dan, itu sangat disayangkan.

















































































































Komentar Terbaru