Selama dua periode, Presiden Jokowi dipecundangi oleh sejumlah oknum di sekitar Istana. Mereka berkolaborasi dengan mafia pertambangan, mafia pangan, mafia migas, dan mafia-mafia lain untuk merampok kekayaan negara. Segelintir orang semakin kaya dan kemiskinan rakyat semakin bertambah.
Sejak dulu, dari satu rezim ke rezim yang lain, mafia memang terbiasa gentayangan di sekitar Istana. Hanya saja, sekarang lebih rakus dan terang-terangan. Hal ini telah mendatangkan protes berjilid-jilid dari mahasiswa dan elemen bangsa yang lain. Rakyat semakin hari semakin gerah dan marah.
Dalam situasi seperti ini, muncul sosok Anies membawa tema keadilan. Bukan sekedar ajakan, tapi Anies telah membuktikan dan memberi contoh di Jakarta.
Di satu sisi, Anies segel pulau reklamasi. Di sisi lain, Anies hidupkan UMKM. Anies buka jalur Sudirman-Thamrin untuk sepeda motor yang sebelumnya ditutup. Tujuannya, agar UMKM tetap bisa bernapas melayani para pegawai dan pekerja kantoran di sepanjang jalur Sudirman-Thamrin via layanan motor.
Setiap hari, ada sekitar 480 ribu pengiriman di jalur Sudirman-Thamrin via motor. Berapa miliar setiap harinya uang yang beredar di antara rakyat kecil itu.
Saat pandemi, di tengah maraknya bisnis PCR dan vaksin, Pemprov DKI memborong APD dan masker yang diproduksi UMKM Jakarta. Ini upaya Anies menjaga stabilitas perekonomian warga DKI. Belum lagi KJP-plus dan bansos yang porsinya lebih besar dari daerah lain. Inilah keadilan yang dihadirkan oleh Anies.
Anies menjadikan Jakarta sebagai ibu kota untuk seluruh rakyat Jakarta. Dari manapun berasal, mereka berhak untuk datang, tinggal dan cari pekerjaan di Jakarta. Di era Anies, tidak ada lagi operasi yustisi. Tidak ada yang dilarang untuk hidup di Jakarta.
Anies juga memberikan kenyamanan bagi semua pemeluk agama di ibukota. Dipermudah izin pendirian tempat ibadah, selama ikut aturan dan tidak resisten secara sosial. Semua pemeluk agama di Jakarta leluasa menjalankan ibadahnya.
Tidak hanya sampai di situ, sejak 2019 Anies melalui Pemprov DKI, juga memberi bantuan bulanan kepada semua tempat ibadah.
Inilah program yang dinamai “BOTI”, singkatan dari Banruan Operasional Tempat Ibadah. Tanpa ada diakriminasi. Inilah yang membuat stigma intoleran dan politik identitas itu salah sasaran.
Kerja keras dan kesuksesan Anies menghadirkan keadilan di ibu kota telah menumbuhkan ekspektasi rakyat agar Anies juga bersedia mengambil tanggung jawab untuk menghadirkan keadilan di negeri ini.
Anies dianggap orang yang tepat untuk mengambil tugas dan amanah untuk menjadi presiden RI. Di sinilah teriakan “Anies Presiden” menemukan argumen rasionalitasnya.


















































































































Komentar Terbaru