UPDATE

NASIONAL

Kerugian Membengkak 3 Kali Lipat, Saham GoTo Merosot

PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GoTo) mencatatkan peningkatan rugi pada kuartal I 2022. Rugi belum pajak sebesar Rp 6,63 triliun. Angka tersebut naik tajam dibanding kerugian pada kuartal I 2021 senilai Rp 1,98 triliun.

Dari sisi pendapatan, GoTo berhasil mencatatkan pertumbuhan 65,5 persen year-on-year (YoY) menjadi hampir Rp 1,497 triliun. Namun total beban di luar beban keuangan GOTO membengkak 206 persen YoY, dari Rp 3,04 triliun menjadi Rp 9,29 triliun.

Beban pokok penjualan dan pemasaran GOTO naik 665 persen atau delapan kali hingga akhir Maret 2022, dari Rp 431,49 miliar menjadi Rp 3,3 triliun. Bobot pos tersebut mencapai 36 persen dari total beban biaya.

Laporan keuangan tersebut lantas membuat saham GoTo merosot kemarin sore. Turun 3,18 persen atau minus 10 poin ke level Rp 304.

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Abdul Manap Pulungan mengatakan, karakteristik investor domestik agak jarang memperhatikan fundamental emiten perusahaan. Cenderung prosiklikal.

“Ketika satu saham lagi naik biasanya akan jadi perhatian. Tapi ingat itu tidak berlangsung lama. Ketika mereka sudah nyangkut, kemudian sahamnya bergerak positif biasanya menjual saham itu,” ungkapnya saat dihubungi Jawa Pos, Selasa (31/5).

Pria yang akrab disapa Ucok itu menyebut, saham perusahaan teknologi memiliki euforia yang besar di awal. Tapi ketika sudah ARA (auto rejection atas), mayoritas memilih keluar atau menjual. Pengalaman IPO saham Bukalapak (BUKA) membuat investor hati-hati.

“Saya memperhatikan bahwa pengetahuan investor domestik semakin baik,” imbuhnya.

Ucok menyebut, tren pergerakan saham di Indonesia ini tergantung cara perusahaan berpromosi. Seberapa besar belanja iklan dan populer perusahaan tersebut.

Meski masih merugi, tapi ketika iklan dan promosinya bagus ditambah momentum yang pas, maka sahamnya akan terus terkerek naik. Namun, dia menilai, GoTo terbilang telat momen saat IPO. Karena ingar bingar teknologi sudah berlangsung saat 2021, saat maraknya berita digitalisasi akibat pandemi.

“Makanya sejak IPO, saham GoTo belum pernah naik sampai 25 persen. Harusnya memang investor berhati-hati. Mereka nggak mau nyangkut juga dari pengalaman berinvestasi IPO Bukalapak,” bebernya.

Proyeksi ke depan, tren saham GoTO bergantung pada seberapa besar porsi investor yang memperhatikan fundamental dan investor yang tidak memperhatikan itu. “Ketika lebih banyak investor yang melihat fundamental ya bisa rebound. Karena GoTo juga berinovasi dengan berbagai macam produk untuk menggenjot bisnisnya,” tandasnya.

Sumber data: BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika)
1 2
Story Terbaru
MEMUAT STORY...

Bagaimana reaksi Kamu?

Diskusi

Terkait

Tampilkan Lainnya Loading...Tidak ada lagi data informasi lainnya.