Nama Apin BK tercantum dalam bagan Konsorsium 303 dan disebut sebagai konsorsium Sumut (Sumatera Utara).
Kejahatan yang ‘dibiarkan’
Keseriusan kepolisian dalam mengusut perjudian online maupun Konsorsium 303, kata Adrianus Meliala, bisa dilihat dari langkah polisi ke depannya karena jika Apin dikategorikan sebagai “kelas kakap, berarti dia tidak bermain sendirian”.
Sampai tahap ini, Guru Besar Kriminologi Fakultas Ilmu Sosial Ilmu Politik Universitas Indonesia (FISIP UI) itu “untuk sementara tidak optimistis” kalau isu perjudian akan diusut tuntas.
“Kalau nanti kemudian dari berbagai polda ada laporan tentang penangkapan-penangkapan, yang kemudian diteruskan dengan penelusuran, serta kegiatan penangkapan ini juga tidak hanya sampai sini tapi juga berlangsung kepada yang lain-lain, selama sebulan misalnya, dan berakhir dengan pemberian vonis bagi pelakunya, baru saya percaya bahwa ini memang adalah langkah yang genuine, langkah yang memang tulus, dalam rangka mengoptimalisasi kewenangan kepolisian terhadap para penjudi,” ujar Adrianus.
Mantan anggota Kompolnas periode 2012-2016 itu mengatakan sebenarnya kepolisian sudah memiliki data tentang perjudian, apalagi judi merupakan “salah satu kejahatan yang paling tua dan tercatat di kepolisian”.
Meski demikian, selama ini data itu “dibiarkan saja” karena tidak menghasilkan langkah penindakan, penyuluhan, atau pemetaan tentang perubahan perjudian.
“Ketika ada kecurigaan mengenai Konsorsium 303, maka kesannya orang-orang yang ada di dalam data ini dipelihara, dijadikan sebagai ATM polisi,” ujar Adrianus.
Dia menduga ada kesepakatan antara pihak kepolisian dan pemain judi untuk “menyetor sebagian keuntungannya” jika tidak ingin dirazia dan ditangkap.
Praktik seperti ini yang diduga Adrianus melanggengkan perjudian dan menyebabkan minimnya penindakan.
Anggota Kompolnas Albertus juga meyakini ada keterlibatan “orang dalam” instansi kepolisian dalam tindak pidana perjudian ini.
“Nanti pasti ada [orang dalam yang terungkap keterlibatannya]. Itu biarkan penyidik yang bekerja. Siapa yang akan menjadi back-up, itu penyidik yang mendalami,” kata Albertus.
Tangkap “yang paling aman”
Berbeda dengan tindak pidana lainnya yang berusaha menghindari polisi, Adrianus mengatakan para bandar judi justru “membutuhkan polisi” untuk mengamankan diri mereka karena bandar judi selalu menjadi target para pemain judi yang kalah. Situasi ini menyebabkan “simbiosis mutualisme” antara pihak kepolisian dengan para bandar judi.
Dengan kondisi seperti itu, menurut Adrianus, tidak mungkin kalau polisi tidak mengetahui siapa saja yang terlibat di dalam perjudian.


















































































































Komentar Terbaru