BANDA ACEH – Tingkat pertumbuhan di kawasan Afrika memburuk. Bank Dunia baru-baru ini meninjau prospek pertumbuhan ekonomi untuk Afrika Sub-Sahara (SSA) menjadi 3,3 persen pada tahun 2022 dari proyeksi awal 3,6 persen. Ini terjadi bukan saja karena perlambatan pertumbuhan global dan krisis yang sedang berlangsung antara Rusia dan Ukraina, tetapi juga karena China mulai menunjukkan keengganannya untuk memberikan dukungan keuangan.
Kepala ekonom global di Renaissance Capital Ltd, Charles Robertson, mengklarifikasi bahwa penurunan China akan memperlambat pertumbuhan di kawasan itu, hal yang membuat para investor kecewa, yang pada akhirnya membuat negara-negara Afrika merasa mereka telah terjebak dalam lingkaran utang China.
“China menunjukkan keengganan dalam memberikan dukungan keuangan kepada mereka dan analis diplomatik menggambarkan langkah ini sebagai tren yang mengganggu,” tulis seorang pengamat, Federico Giuliani, di Inside Over, dikutip dari ANI News.
Tahun-tahun awal saat China memulai proses pinjamannya, Afrika hanya memiliki 25 persen dari negara-negara yang berisiko tinggi mengalami kesulitan utang. Saat ini, ketika ‘jebakan China’ memerangkapnya, presnetase itu naik menjadi 60.
Perusahaan asuransi Jerman Allianz dan anak perusahaan asuransi kreditnya Euler Hermes mengungkapkan temuan yang mengganggu pada November 2020, di mana pada dekade mendatang, China mungkin tidak lagi dapat menyediakan Afrika dengan jumlah pendanaan yang sama, dalam bentuk pinjaman, investasi , dan perdagangan, seperti di masa lalu.
China memiliki beban utang yang berat, kata Hermes. Keseluruhan utang China menurut laporan tahun 2020, meningkat dari 45 persen pada 2013, menjadi 63 persen pada akhir 2019.
China telah melakukan investasi signifikan di negara-negara asing untuk mengamankan pasokan dan mempromosikan ekspornya. Terlebih lagi, negara tersebut membeli setengah dari bahan baku dunia, seperti dilaporkan Inside Over.
Selain perang dagang dengan Amerika Serikat, ada dua alasan di balik pergeseran ini.
Pertama, keputusan Partai Komunis China, yang didorong oleh Presiden Xi Jinping, untuk mengubah model pertumbuhan negara menjadi apa yang disebutnya sebagai strategi “sirkulasi ganda”.
Idenya adalah memprioritaskan pasar domestik untuk mengurangi ketergantungan negara pada impor sambil mempertahankan pangsa pasar ekspornya.
“Pemfokusan ulang ini diharapkan dapat membantu mengurangi arus kas keluar,” menurut laporan tersebut.
Kedua, mesin ekonomi China akan terus mengalami perlambatan sistemik dan melihat laju pertumbuhannya berkurang dari 7 persen yang diamati setiap tahun di tahun 2010-an menjadi sekitar 3,8 persen. Pergeseran ini akan semakin membebani aktivitas pinjaman dan investasi luar negeri China.


















































































































Komentar Terbaru