Paradoks keberlimpahan, dengan kekayaan sumber daya alam luar biasa ini, kita masih menghadapi masalah ekonomi yang krusial, seperti beban utang luar negeri yang mencapai Rp. 6.148 trilliun (Bank Indonesia, Agustus 2022), jumlah penduduk miskin sebanyak 26,1 juta orang (BPS, Maret 2022), dan jumlah pengangguran yang cukup signifikan yaitu 8,4 juta orang (BPS, Februari 2022). Apa yang salah dengan manajemen dan kebijakan ekonomi kita?
Kekuatan Negara Berkembang
Meski belum terdapat penjelasan lebih lanjut terkait proposal pembentukan dana kerugian dan kerusakan dalam COP ke-27, kompensasi ini harus diperjuangkan Indonesia, dan negara-negara berkembang lainnya, karena konsekuensi perubahan iklim dapat terus berimplikasi negatif terhadap kekuatan ekonomi Indonesia, termasuk diantaranya adalah sektor industri berbasis sumber daya alam yang menjadi sumber pekerjaan utama masyarakat kita.
Sebagai negara dengan SDA yang berlimpah, Indonesia memiliki pengaruh besar khususnya diantara negara-negara berkembang. Dengan memperkuat kekuatan dan soliditas G-77, sebagai organisasi negara-negara berkembang, tidak menutup kemungkinan kita dapat menekan negara-negara penghasil GRK utama untuk menyediakan pendanaan lebih besar dalam rangka menyelesaikan masalah pembangunan ekonomi di negara-negara berkembang, seperti utang luar negeri, pembangunan sumber daya manusia, dan pengembangan green energy and technology.
Selain itu, signifikansi ekspor SDA Indonesia, seperti CPO dan batu bara, dapat menjadi instrumen strategis bagi Indonesia untuk memperkuat posisi Indonesia dalam bernegosiasi dengan para penghasil GRK utama dunia. Hal ini dibuktikan diantaranya ketika Presiden Joko Widodo menetapkan ketentuan larangan ekspor batu bara pada awal tahun 2022, Jepang, Korea Selatan, dan China bereaksi karena khawatir terhadap stabilitas suplai energi mereka.
Dalam hal ekspor CPO, China dan Uni Eropa pun merupakan bagian dari konsumen utama minyak sawit Indonesia, tentunya ini dapat memperkuat daya tawar dalam bernegosiasi kepentingan ekonomi kita.
Berkah sumber daya alam ini sebaiknya menjadi kekuatan dalam politik luar negeri Indonesia, terutama untuk mengatasi berbagai tantangan dan masalah ekonomi yang semakin kompleks di tengah konflik geopolitik yang dapat berdampak dalam banyak hal.
*(Penulis adalah Dosen Hubungan Internasional UPN Veteran Jakarta)


















































































































Komentar Terbaru