Ia menilai, anak muda lebih suka tampil informal dan bebas tanpa terikat aturan yang kaku.
“Gaya komunikasi politik anak muda berbeda dengan politik gaya lama. Itu untuk menunjukkan diferensiasi politik berdasarkan karakter ala anak muda yang cenderung suka informal, langsung (lugas), dan ingin tampil bebas atau fleksibel (tidak terikat aturan yang kaku),” jelas Verdy dikutip dari Kompas.com pada Rabu (25/9/2024).
Verdy mengatakan, jika seseorang disudutkan, maka orang itu biasanya pasti akan membela diri atau melawan.
Namun, alih-alih memberi perlawanan, politikus muda justru menjadikan serangan itu sebagai ajang parodi.
Dia menyebut politikus muda yang memakai cara itu sedang membentuk taktik manajemen kesan untuk mengubah persepsi publik terhadap isu atau masalah yang disoroti.
Meski demikian, kata Verdy, cara anak muda yang seperti itu juga bisa menjadi bumerang jika salah dipahami.
“Saya memandang gaya komunikasi politik anak muda cukup menarik. Namun, bentuk komunikasi seperti itu tidak selalu mendapatkan respons positif,” kata Verdy.
“Jika sampai salah penggunaan karena tidak disesuaikan konteks, rawan disalahpahami. Terlalu berlebihan menanggapi situasi krusial dengan parodi juga berpotensi memberi kesan meremehkan persoalan,” sambungnya.
Tetapi, jika pendekatan komunikasi politik gaya anak muda digunakan tepat dengan konteksnya, maka itu bisa mengurangi ketegangan.Verdy meyakini cara seperti itu dapat mencairkan suasana dan membuat orang merasa lebih dekat

















































































































Komentar Terbaru