Akan tetapi, hal itu peluangnya kecil sekali jika melihat produksi minyak nasional dalam 3 dekade terakhir menurun secara konsisten, terus menerus dan mencapai titik terendah sehingga membawa Indonesia sebagai net importir minyak saat ini.
Menghentikan impor minyak akan membawa konsekuensi kepada para pemain minyak yang telah membangun infrastruktur mereka yang siap digunakan untuk mendukung impor minyak itu sendiri.
Seperti misalnya kilang-kilang minyak Indonesia yang dibangun untuk menyerap crude oil impor, kapal-kapal tanker yang dibeli dalam jumlah banyak untuk mendukung importasi minyak, infrastruktur pendukung minyak dalam negeri yang dibangun untuk melahap minyak impor.
Jika meningkatkan produksi minyak bumi Indonesia sudah tidak mungkin karena masalah dan penyakitnya sudah sangat kronis, maka Presiden Prabowo punya satu peluang dalam mencapai swasembada energi, yakni dengan minyak nabati, bio energi, yang sumber bahan bakunya cukup melimpah di Indonesia.
Namun seberapa kuat menghadapi para pedagang minyak impor beserta para pendukungnya, yakni sektor keuangan yang menopang mereka, hingga perdagangan otomotif serta peralatan industri pendukung minyak keberlanjutan energi fosil?
Itu akan menjadi pertarungan yang sangat hebat. Welcome To The Jungle!
(Penulis adalah Direktur Asosiasi Ekonomi dan Politik Indonesia (AEPI) dan Politik Indonesia (AEPI)



















































































































Komentar Terbaru