“Saya pernah dimaki-maki keluarga pasien karena istrinya dilecehkan. Waktu itu dokter sudah pulang, dan saya yang kena. Sampai di-anjing-anjingin,” tambahnya.
Ia menyatakan bahwa selama bekerja di klinik dan rumah sakit, sebagian besar kasus pelecehan terjadi di klinik. Sedangkan di rumah sakit, kasus terhadap pasien relatif lebih sedikit. Ia mengaku sering merasa bersalah dan akhirnya memutuskan untuk mengundurkan diri.
“Saya akhirnya resign karena toxic dan capek, dok. Merasa berdosa dan banyak pertanyaan. Karena kalau ada apa-apa, saya yang selalu dihubungi. Saya perkirakan korban 100+ dok, saya yakin,” ungkapnya.
Ia juga mengkritisi kompetensi dokter tersebut dalam tindakan medis dasar, terutama periksa dalam (PD) saat proses persalinan.
“Kalau melakukan PD (periksa dalam/cek bukaan) lama, dok, sampai pasien risih,” pungkas bidan.
































































































Beri Komentar