UPDATE

EDUKASI
EDUKASI

Mewarisi Luka, Membangun Kesadaran: Dakwah sebagai Jalan Kritis Mahasiswa di Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Ar-Raniry

SURAT terbuka yang ditulis oleh seorang mahasiswa Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Ar-Raniry Banda Aceh ini bukan sekadar curahan hati personal. Ia adalah refleksi yang mendalam atas situasi eksistensial mahasiswa dakwah hari ini—sebuah seruan yang mengajak untuk kembali menyelami ruh dari kata “dakwah” itu sendiri. Dari narasi yang menggugah, kita bisa membaca dengan jelas keresahan dan sekaligus harapan: bahwa organisasi mahasiswa (ormawa) bukan sekadar struktur, bukan sekadar acara seremonial, tetapi harus menjadi alat transformasi sosial. Tulisan ini bukan keluhan, tapi jeritan jiwa yang menginginkan perubahan hakiki.

Dalam pengalaman penulis, monumen Kakbah yang menjadi simbol fakultas bukan sekadar representasi visual dari pusat peradaban Islam, tetapi menjadi titik renung akan makna dan arah gerak mahasiswa dakwah. Dari sinilah opini ini berpijak: bagaimana mahasiswa dakwah hari ini tampak sibuk dengan narasi akhlak, tetapi kehilangan keberanian menyuarakan keadilan. Sibuk merangkai kata-kata santun, tetapi gagap saat dihadapkan pada ketimpangan sosial dan penderitaan rakyat.

Kita tahu bahwa dakwah dalam sejarah Islam bukan lahir dari ruang-ruang akademik yang nyaman. Ia lahir di tengah kekacauan sistem sosial yang feodal, di tengah kekuasaan Quraisy yang menindas. Nabi Muhammad SAW mengemban amanah dakwah tidak dari atas mimbar megah atau podium seminar, tapi dari lorong-lorong Mekah yang kotor oleh praktik jahiliyah. Maka, ketika mahasiswa Fakultas Dakwah hari ini mulai menjauh dari realitas sosial, melupakan konteks masyarakat sekitar, dan sibuk dengan rutinitas administratif belaka, ada sesuatu yang keliru yang mesti dikoreksi bersama.

Dakwah: Antara Simbol dan Substansi

Di titik ini, muncul satu pertanyaan penting: Apakah fakultas ini masih menjadi rumah dakwah seperti yang dicita-citakan Nabi? Apakah organisasi mahasiswa kita hanya menjadi tempat reproduksi gelar dan jabatan, atau justru menjadi ruang perlawanan terhadap ketidakadilan? Penulis mempertanyakan substansi dari semua seremoni pelantikan dan rapat-rapat formalitas yang seringkali kehilangan makna. Ia mengajak kita merenung, bahwa dakwah bukanlah warisan jabatan. Ia adalah warisan luka, perjuangan, bahkan air mata dan darah. Dakwah adalah semangat untuk menyuarakan kebenaran, apapun risikonya.

Ketika ruang-ruang organisasi mahasiswa lebih ramai oleh agenda teknis seperti LPJ, seminar, atau PBAK, tetapi sunyi dari diskusi substansial tentang nasib masyarakat Aceh, maka di sinilah kampus kehilangan fungsinya sebagai agen perubahan. Ketika mahasiswa hanya takut gagal di mata dosen, tapi tidak peduli dengan penderitaan rakyat di luar pagar kampus, maka yang terjadi adalah alienasi: keterputusan antara dunia akademik dan realitas.

Sumber data: BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika)
1 2 3

Bagaimana reaksi Kamu?

Diskusi

Terkait

Tampilkan Lainnya Loading...Tidak ada lagi data informasi lainnya.