UPDATE

OPINI
OPINI

Impor GMO, Impor Penyakit

Tapi mari jujur, siapa yang menikmati insentif ini? Petani kecil di pelosok Kalimantan yang menanam sawit dengan tangan sendiri? Atau para pemilik kebun raksasa yang bisa menyeruput kopi di rooftop hotel sambil memantau harga CPO lewat Bloomberg?

Diversifikasi pangan, yang selama ini didengungkan oleh akademisi dan pegiat pertanian, justru dilindas oleh kebijakan perdagangan yang hanya menguntungkan segelintir eksportir dan importir besar. Sementara itu, kedelai lokal tetap tak mampu bersaing, dan jagung lokal dihargai di bawah ongkos produksi.

Sebagian orang mungkin masih bertanya: “Apa salahnya makan kedelai atau gandum GMO? Toh sehat-sehat saja?”

Nah, ini yang perlu dijelaskan. Tanaman GMO, terutama dari AS, Argentina, dan Brasil, adalah produk rekayasa genetika agar tahan terhadap pestisida berbasis glyphosate, seperti RoundUp.

Artinya, tanaman-tanaman ini bisa disemprot pestisida dalam dosis tinggi, dan tetap tumbuh kuat, seperti Rambo. Tapi apa yang masuk ke dalam tubuh kita bukan cuma kedelainya, melainkan juga residu pestisidanya.

Badan Kesehatan Dunia, melalui IARC, telah mengklasifikasikan glyphosate sebagai zat yang “kemungkinan besar bersifat karsinogenik pada manusia”. Jadi, sambil makan tempe, kita juga mungkin sedang menyantap risiko kanker.

Studi dari jurnal Environmental Sciences Europe pada 2019 juga mengonfirmasi bahwa konsumsi jangka panjang GMO dan pestisidanya berpotensi merusak fungsi hati dan ginjal. Celakanya, di Indonesia, tak ada kewajiban label “GMO” di kemasan produk pangan. Kita makan dalam gelap.

Tak heran, jika kemudian muncul lonjakan kasus penyakit ginjal kronis di Indonesia. Data dari WHO menyebutkan bahwa angka kematian akibat gagal ginjal kronis naik dari 1,4 juta pada tahun 2019 menjadi 8,7 juta jiwa pada tahun 2023.

Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) juga mencatat kenaikan prevalensi penyakit ginjal dari 2 persen pada 2013 menjadi 3,8 persen pada 2018. Kita boleh saja menyalahkan gaya hidup, tapi jangan abaikan fakta bahwa tubuh kita mungkin sudah lama dijejali pangan murah dengan residu kimia mahal.

Dan di tengah kenyataan itu, Indonesia tetap menjadi pengimpor gandum terbesar di Asia Tenggara. Ketergantungan kita sudah melampaui 11 juta ton per tahun.

Padahal, gandum tak pernah akrab dengan iklim tropis. Tapi karena masyarakat makin gandrung pada mi instan, roti putih, dan kudapan berbasis gandum, kita rela menggantungkan perut pada petani di Kansas dan Illinois, yang bahkan tak tahu letak Indonesia di peta.

Kesepakatan dagang Trump-Prabowo hanya memperparah ketergantungan itu. Gandum GMO kini masuk lebih murah dan deras, bahkan sampai ke dapur-dapur warteg di pinggiran kota.

image_print
1 2 3
Story Terbaru
MEMUAT STORY...

Bagaimana reaksi Kamu?

Beri Komentar

Terkait

Tampilkan Lainnya Loading...Tidak ada lagi data informasi lainnya.