Dalam kapitalisme, yang berhak mendapatkan pelayanan terbaik hanyalah mereka yang mampu membayar. Tidak heran jika kesenjangan akses kesehatan semakin melebar. Bagi rakyat kecil, hak untuk sehat seringkali hanya sebatas mimpi.
Allah SWT sudah mengingatkan dalam firman-Nya, “Dan janganlah sebagian kamu memakan harta sebagian yang lain dengan jalan yang batil dan janganlah kamu membawa urusan harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebagian dari harta orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 188)
Ayat ini menegaskan larangan sistem yang hanya menguntungkan segelintir orang dengan mengorbankan hak rakyat banyak. Sistem kapitalisme justru melanggengkan praktik ketidakadilan ini.
Islam Menjamin Kesehatan Rakyat
Berbeda dengan kapitalisme, Islam memandang kesehatan sebagai hak dasar rakyat yang wajib dijamin oleh negara. Rasulullah ﷺ bersabda, “Imam (pemimpin) adalah pengurus rakyat, dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas rakyat yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadits ini menjelaskan tanggung jawab besar negara dalam memenuhi kebutuhan rakyat, termasuk dalam bidang kesehatan. Dalam sistem Islam, negara wajib menyediakan layanan kesehatan gratis, berkualitas, dan mudah diakses oleh semua kalangan, tanpa diskriminasi.
Sejarah mencatat bagaimana Daulah Islamiyah pada masa lalu menghadirkan layanan kesehatan terbaik di masanya. Rumah sakit (Bimaristan) yang dibangun di Baghdad, Kairo, hingga Andalusia tidak hanya memberikan perawatan gratis, tetapi juga menjadi pusat riset kedokteran. Semua rakyat, baik kaya maupun miskin, Muslim maupun non-Muslim, mendapatkan layanan kesehatan dengan kualitas sama.
Selain itu, dalam masyarakat Islam, kepedulian sosial tumbuh dengan subur. Seorang Muslim tidak akan membiarkan tetangganya kelaparan atau sakit tanpa pertolongan. Rasulullah ﷺ bersabda, “Tidaklah beriman seseorang di antara kalian hingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadits ini menjadi landasan moral bagi masyarakat untuk saling menolong dan menjaga sesama. Sehingga kasus tragis seperti yang menimpa Raya sulit terjadi dalam masyarakat yang diatur oleh sistem Islam.
Selain faktor lemahnya akses kesehatan, kasus Raya juga memperlihatkan betapa rapuhnya jaminan sosial di negeri ini. Dalam situasi keluarga miskin, di mana ayah tidak mampu bekerja karena sakit dan ibu mengalami gangguan jiwa, seharusnya negara segera turun tangan. Anak-anak dari keluarga seperti ini jelas membutuhkan perhatian khusus. Namun kenyataannya, mekanisme bantuan sosial seringkali lambat, penuh syarat, bahkan tidak tepat sasaran. Akhirnya, mereka yang paling rentan justru tidak tersentuh bantuan.


















































































































Komentar Terbaru