Saat itu, Nani inisiatif dengan memotong daging panggang yang menggantung dan membagikannya kepada tamu.
Aksi spontan ini membuat Aidit sangat terkesan hingga memberinya kartu nama dengan pesan,
“Kalau ada perlu apa-apa, boleh cari Bapak. Pak Alisastro juga bilang kalau ada perlu cari aja dia di Jakarta,” tuturnya.
Namun terlepas dari tuduhan tersebut, ada sebuah kebetulan saat Nani mendekam di penjara Bukit Duri. Ia berada satu kamar dengan mertua Aidit.
“Jadinya kita di kamar sering ketawa ngebahas soal gosip itu dan kita akhirnya jadi dekat selama di penjara,” kata Nani yang menganggap mertua DN Aidit sebagai guru ngajinya para tahanan wanita di penjara Bukit Duri.
Pegang Kartu Sakti
Dalam masa perburuan setelah September 1965, dua bulan kemudian atau pada November 1965, Nani mulai bekerja di PT Takari, sebuah perusahaan yang berada di bawah pengawasan Kodam IV dan V dan juga Kejaksaan Agung.
Di mana direktur dari perusahaan tersebut yakni Atmoko dan Soetarjo Soerjosoemarno. Dua orang yang berlatar militer.
Semua berjalan normal sampai pada awal 1966, Nani terpaksa bercerita kepada bosnya soal stigma PKI yang diterimanya selama ini.
Hal itu lantaran sang kakak yang tengah berada di Cianjur didantangi oleh anggota Korps CPM yang menanyakan keberadaan Nani.
“Di situ keluarga diancam kalau eyang nggak pulang ke Cianjur, ayah jadi sandra,” kata Nani.
Karena tak mau keluarganya dalam kondisi bahaya, Nani akhirnya berterus terang kepada Atmoko dan Soetarjo Soerjosoemarno.
“Pak Atmoko bilang Kenapa nggak bilang dari dulu sama bapak,” kata Nani.
Singkat ceritam Nani pun dibuatkan kartu oleh Kodam yang intinya menyatakan dirinya bersih dari tuduhan keterlibatan peristiwa G30S.
“Nah surat itu nggak dibalas (oleh tentara di Cianjur). Kodam punya pemikiran bahwa ini main-main. Jadi malah eyang enggak boleh ke Cianjur,” tutur Nani.
Selepas memiliki surat saksi itu, Nani memang bisa lebih tenang. Rumahnya di Cianjur tak lagi disatroni para aparat yang menanyakan keberadaannya.
Hingga akhirnya pada tahun 1967, Nani kembali aktif di dunia seni.
Bersama Angkatan Kesenian Sunda Mahasiswa, ia mengajar menyanyi sejumlah ibu-ibu pejabat kala itu.
Namun siapa sangka, di momen Lebaran tahun 1968, tepatnya pada 23 Desember, Nani ditangkap kala tengah berada di rumah orangtuanya di Cianjur.



















































































































Komentar Terbaru