UPDATE

NASIONAL

Kubu Keluarga Korban Al Khoziny Terpecah Belah, Ada yang Tuntut Proses Hukum, Sebagian Ikhlas

BANDA ACEH  – Keluarga-keluarga korban ambruknya musala Pondok Pesantren (Ponpes) Al Khoziny di Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, tampaknya terpecah belah.

Mereka tidak satu suara dalam menanggapi kejadian memilukan yang menewaskan lebih dari enam puluh orang itu.

Baru-baru ini ada keluarga korban yang menuntut adanya proses hukum dalam kasus tersebut.

“Ini harus ada pertanggungjawaban dari pihak yayasan atau pengurus,” kata Mimied, keluarga salah satu korban, dikutip dari Kompas TV, Rabu, (8/10/2025).

“Memang katakanlah ini kelalaian, tapi tidak bisa diabaikan begitu saja. Sebetulnya sudah jelas itu ada pembangunan atau renov apa, dan masih basah. Dengan kering pun, itu masih dalam proses tidak boleh dilakukan aktivitas,” kata dia menjelaskan.

Kemudian, Mimied mengaku mendukung adanya pemeriksaan secara objektif.

“Keluarga hanya mendesak itu saja supaya ada pertanggungjawaban.”

M. Fauzi, kerabat korban yang bernama Azam Alby, Maulidy Hasany, dan Ubaidillah, juga meminta adanya penyelidikan kasus.

Dia berharap polisi segera memulai proses penyelidikan insiden itu. Fauzi menduga kelalaian dari sejumlah pihak sehingga bangunan yang tidak layak dan tidak sesuai dengan standar keamanan.

“Saya tekankan kalau ini ada pelanggaran hukum di situ. Ada kelalaian manusia. Ya harus diproses, siapa pun itu tidak memandang itu secara sosial siapa. Hukum harus ditegakkan gitu,” katanya, Selasa, (7/10/2025).

Bahkan, Fauzi mengatakan penyelidikan tidak harus baru dilakukan setelah rampungnya proses identifikasi jenazah korban.

“Iya, memang jelas gitu. Betul ya. Jangan tunggu identifikasi ya sambil proses itu sambil berjalan. Kan seperti itu. Kan tidak mengganggu identifikasi proses itu, proses penegakkan hukum itu,” katanya.

Sebagian mengaku ikhlas

Di sisi lain, sebagian keluarga korban memilih ikhlas dalam menanggapi kasus itu dan menolak menyalahkan ponpes.

Keluarga santri bernama Moh Royhan Mustofa (17) asal Kabupaten Bangkalan, Jawa Timur, mengaku ikhlas menerima kematian Royhan.

“Saya ikhlas dengan setulus hati, itu musibah dari Allah. Bagaimanapun, insyaallah anak saya Syahid,” ujar ayah almarhum Royhan, Syukur, setelah pemakaman anaknya, Senin, (6/10/2025).

Rasa ikhlas turut disampaikan oleh keluarga santri bernama Rafi Catur Okta Mulya (17) ditemukan tewas dalam posisi sujud.

Kakak Rafi, Novita Tri Endah (26), mengaku awalnya sulit menerima kejadian ini. Akan tetapi, dia kemudian bisa ikhlas.

“Awalnya syok enggak terima, kenapa harus adikku? Salah kah dia nyelametin anak juga? Masih sempat-sempatnya loh dia nyelametin orang dalam waktu keruntuhan begitu,” kata Novita.

Sumber data: BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika)
1 2

Bagaimana reaksi Kamu?

Diskusi

Terkait

Tampilkan Lainnya Loading...Tidak ada lagi data informasi lainnya.