Menurutnya, sedekah bukan sekadar memberi, tetapi latihan membangun kepedulian sosial dan membuka pintu kesuksesan. Ia mendorong para santri membiasakan berbagi, meskipun dalam jumlah kecil.
Dalam tausiah yang berlangsung interaktif, Ariaman juga menekankan bahwa puasa bukan hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi membentuk karakter utama seorang pemimpin: jujur, berintegritas, disiplin, empati, serta sabar. Puasa, katanya, melatih manusia untuk mengendalikan emosi dan tidak mudah marah.
“Ketika emosi datang saat berpuasa, Rasulullah mengajarkan untuk mengatakan: inni sha’im — saya sedang berpuasa. Inilah latihan karakter menuju pribadi yang sukses dan bertakwa,” ujarnya.
Ia turut mencontohkan sejumlah tokoh nasional berlatar belakang santri yang berhasil berkiprah di tingkat nasional sebagai bukti bahwa pendidikan pesantren mampu melahirkan pemimpin bangsa.
Suasana semakin hidup ketika ia mengajukan pertanyaan kepada para santri. Mereka yang mampu menjawab memperoleh hadiah, sehingga kegiatan berlangsung penuh semangat dan antusiasme.
Pada akhir kegiatan, dilakukan penyerahan sedekah dan infak berupa paket sembako serta bantuan transport bagi santri yang akan pulang kampung menyambut Idulfitri. Acara kemudian ditutup dengan doa bersama yang dipimpin Ustadz Muhammad Rais dan dilanjutkan buka puasa bersama dalam suasana hangat dan penuh kebersamaan.
Kegiatan tersebut menjadi pengingat bahwa Ramadhan bukan hanya bulan ibadah ritual, tetapi juga madrasah kehidupan yang membentuk generasi berilmu, berakhlak, dan siap menjadi pemimpin masa depan berlandaskan nilai-nilai Al-Qur’an.[]


















































































































Komentar Terbaru