Alfian, satu-satunya yang selamat, harus berlari menembus malam dengan tubuh terluka dan jiwa yang remuk. Ia selamat, tetapi mungkin tak akan pernah benar-benar hidup seperti dulu lagi. Apa yang ia lihat malam itu akan terus menghantuinya. Wajah-wajah yang ia kenal berubah menjadi wajah kematian.
Di sanalah letak ironi yang paling kejam. Semua ini bermula dari sengketa lahan. Hanya tanah. Benda mati yang tidak bisa dibawa ke kubur.
Tanah yang akan tetap ada ketika para pembunuh dan korban sama-sama telah menjadi debu. Betapa mengerikannya ketika manusia menukar nyawa anak kecil, ibu, ayah, dan keluarga dengan sesuatu yang tak bisa mereka genggam selamanya.
Hukum mungkin akan datang. Para pelaku mungkin dihukum berat. Tetapi hukuman apa yang bisa mengembalikan tawa David? Vonis apa yang bisa menghidupkan kembali Tasya? Penjara seumur hidup sekalipun tak akan bisa menghapus jerit malam itu.
Tragedi ini adalah cermin paling gelap dari wajah manusia. Ketika keserakahan telah mengalahkan kasih sayang, ketika sebidang tanah lebih berharga dari darah. Malam di Barito Utara itu menjadi saksi, ternyata dalam dunia yang mengaku beradab, nyawa manusia bisa jatuh sedemikian murah. Murah sekali, hingga lima nyawa bisa dibayar hanya dengan sebidang tanah.
(Ketua Satupena Kalbar)


















































































































Komentar Terbaru