UPDATE

NASIONAL

‘Tokoh Sumatera Harus Jadi Cawapres 2029’

BANDA ACEH –  Munculnya hasil survei yang menyebut sekitar 85 persen warga Sumatera ingin berpisah dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dinilai sebagai sinyal serius yang tidak boleh direspons secara emosional maupun represif. Pemerintah diminta menyikapinya dengan pendekatan bijaksana dan kekeluargaan agar tidak memicu konflik kebangsaan yang lebih luas.

Pegiat sosial Politik sekaligus eksponen Angkatan Reformasi 98, Andrianto Andri, menilai hasil survei yang dilakukan Pemuda Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Provinsi Riau pada 2024 lalu harus menjadi alarm bagi pemerintah pusat untuk melakukan evaluasi terhadap distribusi kekuasaan nasional yang selama ini dianggap terlalu terpusat di Pulau Jawa.

Dalam survei tersebut disebutkan mayoritas warga Sumatera, khususnya generasi muda, lebih memilih menjadi negara tersendiri dibanding tetap bergabung dalam NKRI.

“Survei seperti itu sangat mengusik kita semua karena temuannya berada angka yang sangat tinggi, yaitu 85 persen. Yang membuat pun bukan surveyor abal-abal dan kaleng-kaleng tetapi adalah Pemuda ICMI,” kata Andri yang juga peraih gelar Magister Administrasi dari Universitas Prof Dr Mustopo itu kepada RMOL, Minggu, 17 Mei 2026.

Ia menjelaskan, munculnya aspirasi referendum dan keinginan berpisah dari NKRI disebut berkaitan dengan dinamika politik pasca Pilpres 2024 yang diwarnai isu dugaan Kecurangan Pemilu. Menurutnya, fenomena itu menunjukkan adanya pergeseran persepsi politik di kalangan generasi muda Sumatera terhadap masa depan mereka di dalam Indonesia.

Andri menilai Sumatera merupakan kawasan yang sangat strategis bagi Indonesia sehingga setiap gejolak politik di wilayah tersebut harus disikapi secara hati-hati. Selain menjadi pulau terbesar kedua setelah Jawa, Sumatera juga memiliki sumber daya alam melimpah, posisi geopolitik penting di Selat Malaka, serta kontribusi besar terhadap ekonomi nasional.

“Bagaimanapun, Sumatera adalah pulau penting bagi Indonesia, setelah Pulau Jawa. Karena luasnya dan sumber daya alam yang dimiliki. Ditambah pula posisi strategisnya yang berada di Selat Malaka maupun dari jumlah penduduknya yang merupakan nomor dua setelah Jawa,” ujarnya.

Menurut Andri, selama ini gerakan separatis lebih banyak terjadi di Aceh. Namun hasil survei tersebut menunjukkan rasa ketidakpuasan mulai berkembang lebih luas di kalangan masyarakat Sumatera.

“Dengan survei itu kita harus waspada, bahwa ada perasaan tidak puas di kalangan generasi muda yang berpendapat bahwa opsi kemerdekaan lebih menjanjikan dalam kesejahteraan dan kemakmuran dibandingkan jika tetap berada di dalam NKRI,” terangnya.

Sumber data: BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika)
1 2 3

Bagaimana reaksi Kamu?

Diskusi

Terkait

Tampilkan Lainnya Loading...Tidak ada lagi data informasi lainnya.