ACEH BESAR – Ustadz Dr. Tgk. H. Mizaj Iskandar, LC., LLM mengajak umat Islam memperkuat keikhlasan dan ketundukan kepada Allah SWT melalui pelaksanaan ibadah kurban pada momentum Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah/2026 Masehi.
Pesan tersebut disampaikan saat menjadi khatib Shalat Idul Adha di Masjid Babul Maghfirah, Gampong Tanjong Seulamat, Kecamatan Darussalam, Aceh Besar, Rabu (27/5/2026).
Shalat Idul Adha dipimpin oleh Imam Besar Masjid Babul Maghfirah, Drs. Tgk. H. M. Aji Adam. Turut berjamaah Keuchik Gampong Tanjong Seulamat Fadhli H. Nurdin, S.Pd.,M.Pd, Ketua Tuha Peut Gampong Drs. H. Amiruddin Yacob, Ketua BKM Babul Maghfirah Wirzaini Usman, S.Hi.,M.I.Kom, Ketua Pemuda Taufieq Rusmar, ST, imam gampongTgk Murdani, perangkat gampong, para kepala dusun, pengurus remaja masjid, serta masyarakat setempat.
Dalam khutbahnya, Mizaj Iskandar mengingatkan bahwa ibadah kurban sangat dianjurkan bagi setiap muslim yang memiliki kemampuan, sebagai bentuk penghambaan dan ketaatan kepada Allah SWT.
“Bahkan bagi orang yang beriman dan mampu, sangat dianjurkan untuk berkurban meskipun hanya seekor ayam,” ujarnya di hadapan jamaah.
Ia menjelaskan, perintah kurban berasal langsung dari Allah SWT melalui Rasulullah SAW sebagai ibadah yang memiliki kedudukan mulia dalam Islam. Hal itu sebagaimana firman Allah SWT dalam Surah Al-Kautsar ayat 2
“Artinya: Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berkurbanlah.”
Menurutnya, inti dari Hari Raya Idul Adha atau Idul Akbar sejatinya terletak pada pelaksanaan ibadah kurban, bukan semata-mata sebagai manifestasi ibadah haji di Tanah Suci.
Ia menegaskan, Idul Adha tidak berkaitan langsung dengan pelaksanaan haji. Hal itu terlihat dari perbedaan amalan antara jamaah haji dan umat Islam di tanah air.
“Ketika jamaah haji melaksanakan wukuf di Padang Arafah, umat Islam di tanah air justru disunnahkan berpuasa Arafah. Sementara jamaah haji tidak diperbolehkan berpuasa pada hari itu. Begitu pula hari ini, kita melaksanakan Shalat Idul Adha, sedangkan mereka tidak,” jelasnya.
Dalam khutbah yang berlangsung khidmat tersebut, Mizaj Iskandar juga menekankan bahwa setiap ibadah harus dilandasi perintah Allah SWT dan Rasulullah SAW, meskipun terkadang tidak dapat dijangkau logika manusia.
Ia kemudian mengisahkan ketaatan Nabi Ibrahim AS yang diperintahkan menyembelih putranya, Nabi Ismail AS, sebagai bentuk kepatuhan total kepada Allah SWT. Kisah tersebut termaktub dalam Surah Ash-Shaffat ayat 102:
“Artinya: Maka ketika anak itu sampai pada usia sanggup berusaha bersamanya, Ibrahim berkata, ‘Wahai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu.’ Ia menjawab, ‘Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.’”











































































































