BANDA ACEH — Perkembangan seni rupa di Aceh dinilai masih memerlukan perhatian lebih dari berbagai pihak, terutama pemerintah daerah. Dukungan dalam bentuk penyediaan fasilitas, ruang berkesenian, hingga program pembinaan dinilai menjadi kebutuhan penting untuk mendorong lahirnya ekosistem seni yang lebih kuat dan berkelanjutan.
Advertisements
Pelukis Aceh, Salaudin, mengatakan para pelaku seni di daerah masih menghadapi sejumlah kendala dalam mengembangkan karya maupun memperluas akses pasar. Kondisi tersebut membuat perkembangan seni rupa Aceh belum mampu bergerak secepat daerah-daerah lain yang memiliki dukungan infrastruktur kesenian lebih baik.
Advertisements
“Seni rupa Aceh masih tertinggal dibandingkan daerah lain, terutama di Pulau Jawa. Salah satu penyebabnya karena dukungan terhadap pengembangan seni rupa belum maksimal,” kata Salaudin dalam wawancara di Banda Aceh, Selasa (2/6/2026).
Menurut dia, pemerintah memiliki peran strategis dalam membangun iklim berkesenian yang sehat. Di sejumlah daerah yang sektor seni rupanya berkembang pesat, pemerintah hadir melalui berbagai program, mulai dari penyediaan ruang kreatif hingga promosi karya seniman.
Sementara itu, di Aceh, para seniman masih harus berupaya secara mandiri untuk mengenalkan karya dan mencari peluang pasar. Karena itu, ia menilai perlu adanya perubahan cara pandang terhadap seni dan kebudayaan sebagai bagian dari pembangunan daerah.
“Seni rupa juga memiliki nilai pendidikan, ekonomi, dan identitas budaya yang perlu mendapat perhatian serius,” ujarnya.
Salaudin mengusulkan agar pemerintah menyediakan ruang khusus yang dapat dimanfaatkan seniman untuk memamerkan sekaligus menjual karya mereka. Menurutnya, kawasan yang banyak dikunjungi masyarakat dan wisatawan dapat menjadi lokasi yang potensial untuk menghadirkan pusat kegiatan seni.
Ia mencontohkan kawasan Blang Padang maupun area sekitar Museum Tsunami Aceh sebagai lokasi yang dapat dipertimbangkan untuk pengembangan sentra atau kios seni.
Keberadaan ruang tersebut, menurut dia, tidak hanya membantu pemasaran karya seniman lokal, tetapi juga menjadi media edukasi dan promosi budaya Aceh kepada pengunjung dari berbagai daerah.
Selain fasilitas fisik, Salaudin juga mendorong adanya program peningkatan kapasitas bagi seniman, khususnya generasi muda. Program pelatihan, workshop, studi banding, dan pembinaan berkelanjutan dinilai penting untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia di bidang seni rupa.
Ia menambahkan, penguatan ekosistem seni juga membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, termasuk kurator, galeri, dan kolektor yang dapat membantu memperluas jejaring serta peluang bagi seniman Aceh.
















































































































